Bukit Panguk, Dlingo, Bantul

Berburu Kabut di Bukit Panguk

Topografi Bantul yang berupa perbukitan memberikan keuntungan tersendiri bagi kabupaten tersebut. Itu artinya, kabupaten yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut punya potensi luas untuk dijadikan tempat wisata. Tergantung kesadaran warga dan pemerintah setempat, mau mengelola atau membiarkannya apa adanya. Dan belakangan, memang terbukti, berbagai jenis tempat wisata baru mulai bermunculan bak jamur di musim hujan. Sebut saja Puncak Becici misalnya, mengikuti kesuksesan Hutan Pinus Imogiri dan Kebun Buah Mangunan yang sudah sejak lama ada. Yang terakhir, Bukit Panguk, tempat yang akan saya ceritakan pada tulisan ini.

Seperti biasa, informasi tempat wisata cepat sekali menyebarnya melalui media foto. Seringnya, saya menemukan tempat wisata tersebut dari linimasa Instagram, begitu juga dengan Bukit Panguk. Karena dilanda rasa penasaran, saya coba browsing tentang tempat wisata tersebut untuk mencari informasi lebih lanjut. Berbekal panduan yang ada pada tulisan ngadem.com pada halaman pertama mesin pencari, jadilah 14 Juni 2016 silam saya berkunjung ke sana.

Kabut di Bukit Panguk
Kabut di Bukit Panguk

Ada banyak rute untuk menuju Bukit Panguk, bisa melalui Bantul, maupun Gunungkidul. Mudahnya, jika kita sudah pernah ke Kebun Buah Mangunan, maka Bukit Panguk tak jauh dari sana. Sesampainya di pintu masuk Kebun Buah Mangunan, arahkan kendaraan lurus mengikuti jalan naik turun menuju Padukuhan Kediwung. tak perlu takut salah arah, karena semakin dekat dengan lokasi, kita akan dimudahkan dengan beberapa papan penunjuk menuju Bukit Panguk tersebut.

Sesampai di Lokasi, selalu ada petugas yang akan mengarahkan kendaraan kita ke tempat parkir. Tidak ada biaya khusus untuk parkir kendaraan dan masuk tempat wisata. Hanya saja, di sekitar lokasi, disedikan sebuah kotak uang yang bisa diisi oleh pengunjung secara sukarela.

Bukit Panguk
Bukit Panguk

Bukit Panguk mengingatkan saya akan Puncak Becici. Sekilas memang serupa, tapi punya ciri khas sendiri. Jika Puncak becici didominasi Pohon Pinus, maka Bukit Panguk ditumbuhi Pohon Jati. Jika Puncak Becici mengandalkan sunset, maka Bukit Panguk berselimut kabut. Ya, jika kita berkesempatan mengunjungi Bukit Panguk pagi hari, antara pukul 06.00 sampai pukul 07.00, kita punya peluang untuk menyaksikan lautan kabut menutupi perbukitan dan membentuk aliran sungai.

Di lokasi, terdapat tiga buah gardu pandang. Dua buah gardu pandang berukuran kecil, dan satu buah gardu pandang berukuran besar yang cukup digunakan untuk maksimal sepuluh pengunjung. Perlu berhati-hati menggunakan gardu pandang, mengingat persis di bawah gardu pandang tersebut merupakan jurang yang mengarah ke Kali Oyo. Satu hal lagi, karena statusnya yang masih gratis, kebijakan pengunjung dibutuhkan agar membatasi diri untuk bergantian menggunakan gardu pandang tersebut dengan pengunjung lain.

Tak ketinggalan pula, beberapa warung yang dikelola warga sekitar juga tersedia di Bukit Panguk.

Tak hanya pemandangan dari ketinggian, dengan berjalan beberapa ratus meter, kita juga dapa menemukan sebuah goa dengan nama Soe. Tak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai goa tersebut. Sayapun tidak punya kesempatan untuk berkunjung langsung ke goa tersebut. Sayangnya, saya juga tak menemukan gambar aktual goa tersebut melalui mesin pencari, kebanyakan hanya berupa papan penunjuk jalan ke sana.

Mengimplementasikan pepatah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, jika masih ada waktu untuk jalan-jalan, saya sarankan untuk mampir juga ke Goa Gajah dan Watu Mabur (Batu Terbang). Lokasinya masih di sekitar Dlingo. Di salah satu pertigaan Padukuhan Kediwung, akan terpampang jelas ada jalan yang berbeda menuju Bukit Panguk dan Goa Gajah & Watu Mabur. Goa Gajah dan Watu Mabur sendiri punya jalan searah. Apabila menuju Watu Mabur, pasti akan melewati Goa Gajah.

Sayangnya, dua tempat wisata yang saya sebutkan di atas sudah tak terawat lagi untuk saat ini. Hal ini terlihat dari ketiadaan petugas yang berjaga di lokasi.

Watu Mabur punya pesona berupa ketinggan untuk menyaksikan Kali Oyo dan perbukitan. Konturnya tidak jauh berbeda dengan Bukit Panguk maupun Kebun Buah Mangunan. Di sekitar lokasi malah sudah ada beberapa fasilitas seperti gazebo dan gardu pandang khusus. Di sana, kita juga bisa memasang tenda dengan syarat izin menghubungi nomor telepon yang tertera pada salah satu papan pengumuman.

Watu Mabur
Watu Mabur

Watu Gajah sendiri punya cerita lain, ada banyak sejarah yang bisa diangkat dari tempat tersebut. Saya sendiri hanya sampai di pintu masuknya, mengingat di sekitar sana terdapat sebuah larangan untuk tidak memasuki goa tanpa pemandu khusus. Informasi seputar Goa Gajah bisa dibaca selengkapnya pada blog berikut.

Goa Gajah
Goa Gajah

***

Tak kalah dengan perjuangan berburu sunrise, mengejar kabut di Bukit Panguk juga butuh niat yang mantab. Pasalnya, kita sudah harus siap sedari matahari belum menampakkan diri, melewati dinginnya daerah Imogiri, serta kewaspadaan esktra melalui jalan yang naik turun. Tapi, semua usaha tersebut sepadan kok, dengan apa yang kita dapatkan di sana. Bisa terbukti dengan hasil foto yang kalian dapatkan nantinya. 🙂

Jadi, kalian sudah ke Bukit Panguk? Yuk, berbagi fotonya dengan bentang Nusantara. 😉

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *