Spot Bukit Pethu, Waduk Sermo
Spot Bukit Pethu, Waduk Sermo

Bukit Pethu, Spot Baru di Waduk Sermo

Tersebutlah sebuah tempat cukup unik yang saya dapatkan di Instagram. Tempat tersebut termasuk baru, umurnya baru sekitar satu bulanan. Lokasinya pun tak terlalu jauh dari pusat Kota Jogjakarta. Namanya adalah Bukit Pethu, berada di sekitar kawasan Suaka Margasatwa (Waduk) Sermo.

Waduk Sermo sendiri pada dasarnya cukup menarik. Ada beberapa spot asik dan wahana yang disediakan untuk wisatawan. Waduk alami tersebesar seprovinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki spot indah untuk camping. Tak hanya itu, tersedia juga perahu motor yang dapat digunakan untuk mengelilingi waduk, dengan biaya murah tentunya. Sayangnya, bagi traveler yang doyan berbagi foto di media sosial, tempat ini kurang begitu terdengar gaungnya, apalagi bagi wisatawan luar Kota Jogjakarta. Pesonanya sedikit tertinggal dibanding Kalibiru.

***

Bulau puasa sudah tiba, tapi rasa ingin jalan-jalan selalu saja ada. Kalau biasanya menjelajah tempat-tempat yang jauh dan melelahkah, maka kali ini diputuskan untuk menuju tempat yang mudah dijangkau dan tak banyak menguras tenaga.

Berbekal informasi yang ada di Instagram, traveling kali ini bertujuan mengejar sunrise di Waduk Sermo, menjelajah apa yang ada di sana, dan menuju tempat utama, Bukit Pethu. Untuk mengejar sunrise memang butuh perjuangan ekstra. Sepagi buta, kita sudah diharuskan berangkat menuju tempat wisata. Beruntungnya, ada momen sahur di bulan puasa yang memungkinkan kita bangun lebih pagi, menunaikan makan sahur untuk kemudian bergegas menuju tempat wisata.

Kalau kita melakukan pencarian di Instagram dengan katakunci “SUNSET“, terdapat 90 juta hasil pencarian. Sedangkan apabila kita melakukan pencarian dengan katakunci “sunrise“, kita hanya menemukan kurang lebih 26 juta hasil. Memang, sunrise butuh perjuangan lebih untuk mendapatkannya.

Perjalanan pagi buta ke Waduk Sermo yang terletak di Kabupaten Kulonprogo membutuhkan waktu sekitar satu jam. Jalanan yang sepi dan luas membuat durasi perjalanan menjadi lebih singkat. Beberapa kali, kita bakal menemukan bus antar kota antar provinsi berseliweran. Tak ketinggalan juga lalu lalang beberapa warga sekitar yang pasti tak jauh soal ibadah sholat subuh dan aktivitas pasar.

Memasuki gerbang selamat datang Waduk Sermo, matahari sudah mulai naik. Kondisi masih sepi, dan tentu saja belum ada penjaga retribusi sepagi ini. Samar-samar cahaya kemerahan matahari menerpa bumi. Pantulan cahayanya melalui genangan air membentuk kristal berkilau di waduk cukup memanjakan mata.

Memasuki areal waduk, kendaraan saya arahkan langsung ke sebuah jembatan di sekitar sana. Beberapa kali saya melewati jembatan ini. Sempat pula untuk mengambil beberapa gambar di sana. Tempat ini merupakan salah satu yang menarik untuk melihat pemandangan. Baik itu genangan air di waduk, maupun perbukitan dengan berselimut kabut.

Puas memotret areal waduk dengan susana sunrise-nya. Perjalanan kami lanjutkan menuju Bukit Pethu. Memang, jika kita berada tak jauh dari areal jembatan dan perkantoran yang ada di Waduk Sermo, pohon pandang Bukit Pethu tak nampak oleh mata. Kita diharuskan berjalan beberapa kilometer lagi menyusuri jalan lingkar waduk untuk menemukan lokasinya. Tak susah menemukan pohon pandangnya, karena lokasinya persis berada di pinggir jalan berbatasan dengan pinggiran waduk. Kalaupun tanpa sengaja kita meleng karena suatu hal, dipastikan tidak bakal melewatkannya karena selalu ada petugas yang berteriak dengan keramahannya, “Foto di Bukit Pethu mas? mbak?”. 😀

Di area Bukit Pethu, terdapat dua toples besar yang biasa digunakan sebagai wadah kerupuk. Posisinya berada di areal parkir, sedangkan yang lainnya ada di dekat pohon pandang. Kalau sudah begini, saya beranggapan bahwa biaya penggunaan dan parkir mestilah sifatnya sukarela. Dan memang benar adanya. Untuk saat ini, pengelola tidak menarik tarif khusus untuk menggunakan fasilitas yang ada di sana.

Di kondisi hari kerjapun, selalu ada petugas resmi (terlihat dari co-card yang dipakai) yang menjaga dan bertanggung jawab melayani pengunjung. Mereka berkewajiban untuk memasang alat pengaman pada wisatawan sebelum naik ke pohon pandang. Demi meningkatkan pelayanan pula, mereka juga bisa dijadikan sebagai fotografer dadakan.

Saya sempat bertanya, apakah melayani jasa foto dari pengelola Bukit Pethu? Salah satu petugas menjawab iya, hanya saja saat itu mereka tidak membawa laptop untuk memudahkan transfer berkas foto dari kamera ke smartphone pengunjung menggunakan media laptop. Nampaknya, pengelola belum sepenuhnya menyediakan fasilitas ini.

Ngomong-ngomong soal foto lagi, di Bukit Pethu juga terdapat gardu khusus untuk memudahkan fotografer mengambil foto wisatawan yang berada pada pohon pandang. Ketinggiannya yang sejajar dengan pohon pandang memudahkan kita untuk mengambil foto. Selain itu, permukaan gardunya dibuat lebih luas, sehingga memudahkan fotografer mengambil foto dalam berbagai posisi. Bahkan dimungkinkan untuk menggunakan tripod di sana.

Perlu hati-hati dalam memotret karena rawan akan backlight. Waktu terbaik untuk mengambil foto adalah saat sore hari, saat di mana matahari berada di belakang fotografer. Konsekuensinya adalah bakal antri karena ramai pengunjung, mengingat jam-jam tersebut adalah waktu yang biasa digunakan wisatawan untuk berkunjung. Apalagi setelah tulisan ini dipublikasikan.

Apabila menemukan indikasi backlight, ada beberapa tips yang bisa diambil agar komposisi cahaya foto pas, pas untuk model maupun untuk background.

  • Gunakan mode HDR (High Dynamic Range). Kebanyakan kamera smartphone dan kamera mirrorless sekarang sudah mendukung mode ini.
  • Gunakan speedlite/flash. External flash lebih bagus lagi.
  • Gunakan teknik bracketing pada kamera (D)SLR. Teknik ini dinilai merepotkan karena kita diharuskan menggunakan tripod. Selanjutnya, harus mengabunggkan beberapa foto di aplikasi pengolah gambar untuk mendapatkan pencahayaan yang pas.

Tiga foto di bawah merupakan contoh pengambilan gambar dengan teknik bracketing. Menghasilkan beberapa gambar sekaligus dengan exposure yang berbeda-beda tiap gambarnya. Gambar-gambar tersebut kemudian diolah dengan cara penggabungan untuk mendapatkan kombinasi yang pas. Semisal, saya mengambil bagian langit pada foto pertama, kemudian bagian model dan pohon pada foto kedua. Selanjutnya ditambahkan “make-up” sedemikian rupa agar foto lebih menarik.

Melihat geliat makin ramainya Kalibiru di kalangan pelancong, pengelola Waduk Sermo sepertinya juga tak mau kalah. Kalau di pohon pandang Kalibiru kita bisa melihat hampir semua bagian waduk, di Bukit Pethu kita berbatasan langsung dengan waduknya.

Spot Bukit Pethu
Spot Bukit Pethu

Terakhir, Bukit Pethu bisa dijadikan kunjungan kedua setelah puas bermain di Kalibiru. Posisinya yang tidak terlalu jauh, memberikan kemudahan bagi kita untuk mengkses dua tempat tersebut hanya dalam waktu kurang dari sehari. Atau, Bukit Pethu juga bisa dijadikan alternatif bagi bagi pelancong yang tak sabar menunggu antrian di Kalibiru. Mumpung masih sepi dan “gratis”. 😉

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

7 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *