Bukit Kosakora
Bukit Kosakora

Camping Sehari di Kosakora, Bukit Indah yang Masih Tersembunyi

Sejujurnya, saya mulai khawatir terhadap beberapa tahun belakangan dengan banyaknya pendaki yang begitu bebas naik turun gunung dengan pengetahuan dan perbekalan seadanya. Bisa dibayangkan, mereka naik dalam rombongan yang hampir kesemuanya menggunakan daypack/tas ransel buat kerja. Saya sering bertanya-tanya, apa yang mereka bawa? Sebegitu hebatnya mereka dalam mengemas barang-barang sehingga dengan ukuran tas seperti itu bisa muat banyak. Bahkan, saya yang biasa membawa tas carrier ukuran 60+10 saja masih merasa kurang.

Well, sisi lain dari kekhawatiran saya akan hal di atas, kita juga bakal sering merasakan bagaimana penuh dan ramainya gunung ketika akhir pekan atau libur panjang datang. Bagi sebagian orang, gunung merupakan tempat “mengasingkan diri”, menyendiri atau mencari keheningan. Hal yang tidak lucu ketika suasana pasar yang didapat ketika mendaki gunung.

Jelas, tulisan saya kali ini tidak membahas soal gunung, levelnya jauh lebih rendah dari gunung, Bukit Kosakora namanya. Tempat ini bisa jadi alternatif, alternatif ketika gunung sudah membludak oleh para pendaki, alternatif ketika kita belum yakin akan pendakian gunung dan alternatif karena tempat ini belum begitu banyak dikenal oleh khalayak.

Terletak di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akses paling gampang menuju bukit tersebut menggunakan kendaraan pribadi. Menyusuri jalan Wonosari, melewati Jalur Lingkar Selatan untuk menuju Pantai Drini. Butuh waktu sekitar dua jam dari pusat kota Yogyakarta untuk menuju pantai tersebut.

Memasuki area pantai Gunungkidul, kita dikenakan retribusi sebesar Rp.10.000,00 per orang, yang mana dari retribusi ini, kita dapat mengakses beberapa pantai sekaligus seperti Baron, Kukup, Krakal, Watu Kodok, Sanglen dan lain sebagainya.

Sesampai di area wisata Pantai Drini, dikenakan lagi biaya parkir sepeda motor sebesar Rp.3.000 per buahnya dan Rp.5.000 apabila bermalam. Biaya bisa berbeda tergantung jenis kendaraan yang digunakan tentu saja.

Bukit Kosakora
Bukit Kosakora

Menuju Bukit Kosakora tidaklah begitu sulit. Dari Pantai Drini kita bisa mengarahkan kaki menuju timur pantai. Dari sini, disediakan tangga untuk menaiki tebing dan bukit. Per orang, dikenakan jasa perawatan jalan dan tangga sebesar Rp.2.000,00. Dari jalan ini pula, kita bisa mengakses dua pantai lainnya, ialah Pantai Rumput dan Pantai Watu Bolong. Durasi yang diperlukan untuk sampai ke puncak bukit kurang lebih 20 menit. Siapkan tenaga ya, apalagi dengan bawaan berat cukup membuat keringat bercucuran.

Mendekati puncak bukit, kita akan menemui petugas yang bersiap dengan tugasnya mengarahkan dan mengantarkan kita menuju Kosakora. Lagi, melewati pos ini kita dikenakan biaya sebesar Rp.2.000,00. Sebagai informasi, uang tersebut akan digunakan untuk biaya kebersihan Bukit Kosakora. Lebih fair menurut saya, membebankan uang sebesar tersebut kepada pengunjung untuk menjaga kelestarian dan kebersihan Kosakora, mengingat betapa malasnya para pengunjung membawa turun kembali sampah yang mereka hasilkan.

Menyaksikan dunia dari jendela tenda
Menyaksikan dunia dari jendela tenda

Sebagai informasi, saat ini di bukit terpecah jadi dua, Bukit Kosakora yang dikelola warga dan Amarei Hill yang dikelola oleh investor. Baik Kosakora maupun Amarei Hill mematok biaya pasang tenda yang tidak murah per orangnya. Agar lebih hemat, akan lebih baik untuk camping di Pantai Rumput atau Watu Bolong, naik menuju bukit di pagi buta. Camping di Pantai Rumput atau Watu Bolong sendiri dikenakan biaya perawatan sebesar Rp.10.000,00.

Saran pemandu tersebut cuma satu, jangan memasang tenda terlalu ke barat, karena memang posisinya miring menghadap tebing.

Menyiapkan sarapan
Menyiapkan sarapan

Dengan padang rumput yang hijau, Kosakora berada persis di sebelah pantai Ngrumput. Sayangnya, karena bagian timur bukit ini ditumbuhi pepohonan, hampir dipastikan kita tidak bisa menyaksikan sunrise sempurna. Positifnya, pohon-pohon ini bisa kita manfaatkan untuk memasang hammock misalnya.

Dikarenakan berangkatnya malam hari, tentu juga tidak dapat melihat langsung sunset di lelautan sebelah barat.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *