Java Travel Journalism 2015
Java Travel Journalism 2015

Java Travel Journalism Class 2015 oleh Phinemo di MesaStila

Sepagi buta, berteman dengan rintik hujan, saya sudah memacu laju sepeda motor. Bertolak dari Kota Yogyakarta, menuju kota tetangga. Tujuan utama saya adalah MesaStila, sebuah hotel & resort yang terletak di Grabag, Magelang.

Ngomong-ngomong, judul di atas tidak keliru. Tanpa harus membuka arsip foto, saya ingat betul kapan acaranya diadakan, yaitu tanggal 19 Desember 2015, bertepatan dengan ulang tahun saya. Memang, tulisannya baru saya publikasikan baru-baru ini karena dipaksa oleh Chief Editor Phinemo acara serupa bakal diadakan lagi tahun ini, dan lagi ini semacam menjadi utang karena sudah satu tahun berlalu namun belum juga saya tulis.

Pengenalan

Java Travel Journalism Class 2015 oleh Phinemo diadakan dalam bentuk workshop yang menggabungkan konsep belajar, berdiskusi, dan praktek menulis perjalanan. Menghadirkan dua pembicara utama, ialah Teguh Sudarisman, dan berikutnya adalah Windy Ariestanty. Tema yang diusung pada acara adalah “Fundamental Menulis Perjalanan (Narative Non-Fiction) dan Membangun Brand Sebagai Penulis Perjalanan”.

MesaStila
Pemandangan dua gunung dari MesaStila

Sebelum acara inti dimulai –saat di mana pembiaca berbagi ilmu–, peserta yang kesemuanya merupakan bloger (traveling) diajak berkeliling MesaStila. Coffe Plantation Tour nama programnya. Tur ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan akan kegiatan di MesaStila, seperti bagaimana membuat pupuk cair dari kotoran kambing yang dirawat sendiri, bagaimana merawat kuda, menanam sayur, dan sesuai dengan nama programmnya, penjelasan panjang lebar tentang kopi yang ditanam di sana. Tak hanya penjelasan cara menanam dan merawatnya, tapi juga dijabarkan tentang cara pengolahan sampai siap dihidangkan.

Dari tur ini, saya baru memahami, kalau dasarnya, MesaStila adalah sebuah kebun kopi yang punya resort & hotel, bukan sebaliknya. Sebagai gambaran umum, kopi yang dihasilkan di MesaStila berjenis Robusta, Arabica, Jawa, & Excelsa dan diklaim menghasilkan kopi yang paling enak dibanding dengan produsen sekitar sana.

Klaim kopinya yang enak bukan tanpa alasan. Pasalnya, sebagian besar kebun kopi di area Jawa lebih sering dipanen secara prematur. Belum matang sempurna, namun sudah dipetik karena takut keduluan orang lain (dicuri). MesaStila tentunya tidak perlu takut hal tersebut terjadi, karena kebun kopi yang berada di sana terlindung oleh pagar pembatas serta pengawaasan yang ketat. Hal ini memastikan proses panen hanya mengambil kopi yang benar-benar sudah matang sepenuhnya.

Cara lain menikmati kopi, dimakan langsung!

Selengkapnya mengenai Coffe Plantation Tour dapat dibaca pada artikel berikut.

Selain banyak berkenalan dengan kopi, kami, para bloger juga diajak berkeliling melihat fasilitas dan layanan yang disediakan oleh MesaStila. Tersedia beberapa kamar yang dipesan untuk kelurga, spa, serta kolam renang dengan pemandangan berupa gunung Telomoyo dan Andong.

Puas melihat-lihat sekeliling MesaStila, acara dilanjutkan dengan Coffe Break sambil berkenalan dengan penulis perjalanan lainnya.

Acara Inti

Dipandu oleh Desti selaku Editor Phinemo, membuka acara pertama berbagi pengalaman perjalanan dan menungkannya dalam sebuah tulisan oleh Mbak Windy.

Walaupun tempo bicara Mbak Windy tergolong cepat, pesan yang disampaikan cukup muda dipahami. Mbak Windy awalnya lebih banyak berbagi cerita perjalanannya, baik itu dalam negeri maupun luar negeri. Tak hanya perjalanan semata yang dia sampaikan, ada unsur humanis yang selalu diselipkan. Inilah topik utama dari Windy, bahwa, cerita perjalanan akan lebih menarik kalau ada sisi humanisnya. Selain itu, buatlah cerita dengan topik lain dari tempat wisata umum yang sering dikunjungi.

“Sebagai penerbit buku, saya bakal mempublikasikan tulisan kamu jika itu bercerita perjalanan kamu tentang Mars, karena belum ada yang menulisnya” kata Windy Ariestyanti.

Windy Ariestyanti
Windy Ariestyanti

Misalnya, ada banyak orang yang bepergian ke Bromo, ada banyak pula yang membagikan tulisannya dengan destinasi yang sama. Lantas, jika kamu menulis hal yang serupa, apa menariknya?

Dari hasil berbagi oleh Mbak Windy, dapat disimpulkan bahwa untuk menarik minat pembaca, tulisan kamu haruslah menarik, buatlah ia menjadi unik.

Intermezo

Ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta dan Mbak Windy, tanpa terasa sudah menghabiskan waktu banyak dan memaksa untuk mengkhiri acara utama bagian pertama.

Hari mulai terik, jam sudah menunjukkan pukul 12.00, saat di mana peserta diajak untuk makan siang ala MesaStila. Sembari mempersiapkan makan, saya banyak bertanya soal menu yang tersedia serta bahan yang digunakan. Salah satu hasil pembicaraan yang menarik adalah, semua pasokan bahan mentah 60% diambil dari kebun MesaStila sendiri. Mandiri sekali ya. 🙂

MesaStila
Stasiun yang dialihfungsikan menjadi lobi

Di acara makan siang juga saya berkenalan lebih jauh dengan beberapa bloger, sebut saja Jejak Bocah Ilang dan Bartzap.

Acara Inti (2)

Masih dipandu oleh host yang sama, pembicara kedua adalah Teguh Sudarisman. Berbeda dengan Mbak Windy yang mengangkat tema humanis dan keunikan sebuah tulisan, Mas Teguh lebih banyak membagikan tips bagaimana agar tulisan kita bisa tayang di majalan besar. Ada satu tips yang menurut saya begitu menarik dari beliau.

“Coba kalian baca siapa editor suatu majalah, terus cari namanya di Google, tambahkan sebagai teman di Facebook. Kemudian kirim pesan atau email disertai contoh tulisan yang akan dipublikasikan” begitu tips yang dibagikan Teguh Sudarisman.

Teguh Sudarisman
Teguh Sudarisman

Tips lain yang cukup menarik adalah, seselesainya kita melakukan perjalanan, sesegera mungkin kita menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Bukannya apa-apa, kalau sudah kelamaan, yang ada malah lupa mau nulis apa. Iya kalau lupa saja, kalau kadung malas?

Selain itu, usahakan untuk satu perjalanan dibuat menjadi (minimal) 3 tulisan yang berbeda. Memungkinkan kita mengirim tulisan dengan tema yang sama pada penerbit yang berbeda.

Sembari membagikan tips, disematkan juga Mas Teguh honor untuk satu artikel yang tayang pada majalah besar. Makin semangat ya menulis dan memperbaikinya. 😀

Epilog

Hari mulai sore, acara inti bagian kedua pun diakhir dengan sesi tanya jawab antara peserta dan Mas Teguh. Pun begitu, masih ada acara lainnya, yaitu menerapkan ilmu yang telah diserap peserta dari kedua pembiacara tersebut. Tema tulisannya sederhana, yaitu perjalanan terakhir yang dilakukan. Tulisan tersebut nantinya dipublikasikan pada blog masing-masing.

Saya pribadi, banyak mendapat ilmu dari acara Java Travel Journalism 2015 yang diadakan oleh Phinemo. Baik ilmu dari sisi traveling, fotografi, sampai dengan ilmu menulis agar lebih banyak menarik pembaca. Walau berbalut workshop, pengalaman yang didapat jauh lebih menarik dibanding acara serupa. Ada banyak cerita yang bakal dibentuk menjadi tulisan. Selain itu, makin bertambahnya lingkaran pertemanan sesama bloger, apalagi bloger yang bertemakan traveling.

Tahun ini, Phinemo akan mengadakan lagi acara yang sama dengan judul sedikit berbeda, yaitu Travel Journalism Class 2017. Temanya adalah “Bagaimana Agar Tulisan di Blogmu Dibaca Banyak Orang”. Pembicaranya dihadirkan langsung dari Phinemo, ialah Shabara Wicaksono, Chief Editor yang pada acara sebelumnya berprofesi sebagai fotografer dadakan. ?

Apakah kamu ikut dalam acara Travel Journalism Class 2017? Kalau saya sih, jelas iya. 🙂

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

One comment

  • omnduut berkata:

    Duuh serunyaaa. Ketemu master-master, mau banget nyedot (((sedot))) ilmunya langsung ke pakar.
    Eh ada Halim nyempil hihihi.

    Hayo Phinemo, bikin acara di Palembang dong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *