Ibu Suwardi mempersiapkan bumbu kerupuk
Ibu Suwardi mempersiapkan bumbu kerupuk

Juguran Blogger Indonesia: Proses Pembuatan Kerupuk Ampas Tahu di Desa Kalisari

Pagi telah telah tiba. Rasa-rasanya, bangun pagi kala itu lebih nikmat dan segar dari biasanya. Rasa lelah melewati perjalanan dari Jogjakarta – Desa Kalisari terbayar dengan tidur lebih awal. Tak sering memang saya tidur di bawah jam 22.00. Hanya dalam kondisi benar-benar lelah saya dapat melakukannya.

Cerita sebelumnya: Juguran Blogger Indonesia: Prolog

Belum selesai dengan badan yang rasanya lebih enteng, ditambah pula dengan suasana pedesaan, suasanya yang jarang sekali dirasakan di kota. Udara yang sejuk, hewan-hewan dengan bebasnya berkeliaran, lalu lalang warga memulai aktivitas di pagi hari, serta tetesan air dari pepohonan sisa hujan semalam. Syahdu pagi itu rasa-rasanya membuat diri tak ingin melewatkannya begitu saja.

Jika sudah begitu, menjelajah lingkungan sekitar Desa Kalisari adalah pilihan yang menarik. Tak perlu jauh-jauh, karena dengan jarak singkat saja, kita bakal menemukan sebuah landscape khas pedesaan, sawah. Pagi hari adalah waktu yang sangat tepat untuk berkunjung ke sana. Karena di pagi hari, kita tidak hanya disuguhkan pemandangan sawah dan lingkungannya, tapi juga akan disuguhkan aktivitas pak tani memulai hari mencari nafkah untuk keluarga. Human interest kalau istilah tukang foto.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.00, saat di mana Pak Kades Kalisari, Ardan Aziz berkunjung ke penginapan kami. Sembari memperkenalkan diri, beliau memasuki ruang tamu untuk kemudian duduk bersama-sama, ngobrol santai sejenak.

Sebelum memulai aktivitas hari itu, Pak Aziz, begitu sapaannya, bercerita sedikit tentang Kalisari. Mulai dari sejarah singkat, kegiatan dan kebiasaan sehari-hari warga, dan tak lupa visi & misi Kalisari, khususnya yang berhubungan dengan teknologi informasi.

Ngobrol santai bersama Kades Kalisari, Ardan Aziz
Ngobrol santai bersama Kades Kalisari, Ardan Aziz

Dari pembicaraan santai tersebut, diselipkan sekilas tentang keseharian beliau di luar menjabat sebagai kepala desa. Dari apa yang disampaikan, kami baru paham kalau beliau juga ahli akupuntur. Dari gaya bicaranya yang selalu mengundang gelak tawa, tak heran saya menduga kalau beliau ini juga merangkap sebagai stand up comedian.

Sebagai bocoran nih, akan diadakan festival tahu di Kalisari pada bulan Oktober 2016. Nah, ini merupakan kesempatan lain buat traveler dan blogger berkunjung ke desa tersebut dalam event yang berbeda. Khususnya bagi yang belum sempat ikut pada acara Juguran Blogger Indonesia beberapa waktu lalu.

Sebelum memulai melangkahkan kaki, Pak Aziz memberitahukan kami bahwa ada tiga lokasi yang akan dikunjungi, produsen kerupuk ampas tahu, produsen tahu itu sendiri, dan biogas hasil limbah cair tahu. Kerupuk ampas tahu yang pertama dikunjungi akan jadi topik utama tulisan ini karena cukup unik dan menarik untuk dibahas.

***

Pak Suwardi (60) namanya. Di usia beliau yang sudah tidak lagi muda masih harus bekerja membuat produk berupa kerupuk. Kerupuk ampas tahu lebih tepatnya. Tapi jangan salah, walau begitu, tenaganya boleh diadu dengan yang masih berada di usia produktif. Lihat saja aktivitas beliau, mulai dari menyiapkan bahan, mengadon dan mencampur bahan baku sampai dengan proses penyelesaian, hampir sebagian besar dilakukan oleh beliau. Sisanya dibantu oleh sang istri. Kedua pasangan suami istri tersebut bahu-membahu dan saling melengkapi untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini yang disebut sebagai romantis dalam bahasa lain.

Pak Suhardi dengan cekatan mengolah bahan kerupuk
Pak Suwardi dengan cekatan mengolah bahan kerupuk

Sambil tangan beliau sibuk dengan pekerjaannya, mulut beliau juga dibuat sibuk menjawab pertanyaan dari beberapa blogger. Semestinya, hari itu Pak Suwardi libur bekerja karena kurang enak badan, tapi karena Pak Aziz menodong mereka untuk tetap kerja dalam rangka kedatangan blogger ada pesanan khusus, pada akhirnya beliau menguatkan diri untuk tetap berkarya.

“Biasanya dalam seminggu, enam hari kerja dan satu hari libur, liburnya sesuka aja, tergantung badan. Kalo capek ya istirahat dulu.”, begitu beliau membuka percakapan.

Seperti kita tahu, bahwa setiap produksi barang apapun akan menghasilkan limbah, tak terkecuali olahan tahu. Limbah yang dihasilkan dari tahu terdiri dari dua jenis, limbah cair dan limbah padat. Limbah cair biasanya dibuang begitu saja ke aliran air (dan nantinya di Desa Kalisari akan diolah menjadi biogas), sedangkan limbah padat digunakan sebagai suplemen tambahan ternak berupa sapi.

Namun, semenjak penelitian Pak Subuh, salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto tahun 2010 silam, limbah padat tahu dapat diolah menjadi produk dalam bentuk lain. Ialah satunya kerupuk ampas tahu yang saya sebutkan di atas. Dan semenjak itu pula, keluarga Pak Suwardi memulai inovasi baru tersebut untuk menghidupi keluarga.

Beruntungnya, seperti disampaikan oleh Pak Kades Aziz, hingga saat ini belum ada paguyuban sapi yang demo menuntut bekurangnya makanan mereka karena dialihkan untuk produksi kerupuk ampas tahu. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pak Aziz sudah mempersiapkan keamanan dari kepolisian hewan.

Proses Pengolahan

Normalnya, dalam sehari keluarga Pak Suwardi mampu mengolah 50 kilogram ampas tahu. Bahan baku tersebut dicampur lagi dengan 50 kilogram tepung kanji sehingga total beratnya mencapai satu kuintal (1:1). Bahan tersebut masih perlu dicampur lagi dengan bumbu pengolah rasa. Mengenai komposisi bumbu, tidak dibeberkan secara detail oleh istri Pak Suwardi. Resep keluarga kata beliau.

Proses pencampuran bahan baku masih manual, dilakukan menggunakan tangan. Kenapa tidak dilakukan dengan mesin? Tekstur bahan bakunya sedikit berbeda dengan produk olahan lainnya. Pernah dicoba menggunakan mesin, hasilnya tak begitu memuaskan. Campuran bahan bakunya tidak merata dan terkesan menggumpal.

Setelah semua bahan tercampur rata, kemudian dibentuk dalam sebuah tatakan berbentuk persegi panjang dan dibungkus dalam balutan plastik.

Sebelum masuk ke proses penjemuran, masih ada beberapa proses yang harus dilewati. Bahan-bahan yang sudah berbentuk persegi panjang tersebut dikukus terlebih dahulu selama empat jam. Lama dipengukusan, tak kalah lama dibanding di ruang pendinginan. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam berada di ruang freezer dan satu jam di ruang pendingin biasa. Pembekuan bahan tersebut bertujuan agar memudahkan dalam proses pemotongan bahan yang awalnya berbentuk persegi panjang, menjadi potongan yang lebih kecil seperti kerupuk pada umumnya.

Jika proses sebelumnya dilakukan manual, proses pemotongan sedikit terbantu dengan mesin. Sehingga, proses ini bisa dilakukan dengan lebih cepat. Tak sampai satu jam katanya untuk bahan dengan takaran di atas.

Proses selanjutnya adalah penjemuran. Dari satu kuintal bahan baku di atas, karena penyusutan, maka hanya menghasilkan sekitar 55 kilogram kerupuk siap saji.

Kendala yang biasa dialami oleh produsen kerupuk adalah saat musim hujan. Karena masih mengandalkan sinar matahari, maka jika cuaca tidak mendukung, terpaksa proses ini harus ditunda sampai kondisi memungkinkan. Tak jarang ada yang butuh waktu berhari-hari sampai kerupuk benar-benar kering dan siap untuk digoreng.

Langkah terakhir ialah pengemasan. Biasanya, kerupuk-kerupuk tersebut langsung dikemas dalam wadah plastik. Satu plastik besar terdapat 21 bungkus dengan berat netto 100 gram. Yang mana, satu plastik besarnya dijual seharga Rp.34.000. Ada kalanya, dibeli langsung oleh distributor tanpa kemasan, harganya Rp.16.000 untuk setiap satu kilogramnya.

Kerupuk ampas tahu yang sudah dikemas
Kerupuk ampas tahu yang sudah dikemas

Butuh waktu dua hari untuk memproduksi satu kuintal bahan baku sampai menjadi kerupuk siap saji. Adapun prosesnya berupa: pengadonan, pencetakan, pengukusan dan pembekuan, pemotongan, penjemuran, dan pengemasan.

Bagaimana proses pemasarannya?

Keluarga Pak Suwardi tidak memasarkan langsung produk mereka. Hampir setiap hari, dari pihak distribusi selalu ada saja yang datang untuk mengambil produk mereka untuk dijual ke berbagai wilayah di Banyumas. Jadi, kegiatan mereka sehari-hari lebih banyak berfokus di bidang produksi. Namun, ada kalanya juga distribusi dibantu oleh sang anak yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di salah satu perusahaan percetakan buku di daerah Banyumas.

***

Kunjungan kali itu diakhiri dengan bagi-bagi kerupuk kepada blogger. Tak banyak memang, tapi cukup sebagai makanan pelengkap disantap berbarengan dengan nasi, serta sebagai pengingat bahwa kita pernah mengikuti proses pembuatannya di Desa Kalisari.

Oh ya, sebelum berakhirnya acara kunjungan, ada seorang blogger bernama Wawan yang ingin memborong kerupuk-kerupuk tersebut. Ah, sial memang tak dapat ditolak, jumlah persediaan tak sebanyak dengan jumlah permintaan yang dia ajukan. Semoga lain kali Mas Wawan lebih bersiap diri untuk memesan lebih awal, membeli satu hari Pak Suwardi khusus membuatkan kerupuk untuk pesanannya. ?

Jadi, kapan kalian berkunjung ke Desa Kalisari? ?

Cerita blogger lainnya:

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

27 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *