Spot 2 Kalibiru
Spot 2 Kalibiru

Kalibiru Terus Membenahi Diri

Tepat seminggu yang lalu, saya berkesempatan menungunjungi (lagi) Kalibiru yang terletak di Kabupaten Kulon Progo. Dan itu artinya sudah setahun lebih semenjak kunjungan saya 31 Januari 2015 lalu. Tempat ini cukup ramai diperbincangkan dalam dunia traveling, apalagi bagi yang ingin berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adapun, tugas saya waktu itu adalah sebagai juru foto, sesekali menceritakan apa yang bisa dilakukan dan yang apa saja yang menarik di sana.

Kalibiru
Salah satu permainan yang tersedia dalam paketan games

Selama setahun tak ke sana, ada banyak perubahan yang terjadi. Tak hanya diam dengan kenyamanan, pengelola terus membenahi Kalibiru untuk terus menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Kuantitas pengunjung yang kian bertambah juga harus diimbangi kualitas pelayanan dari pengelola. Itulah yang saya rasakan ketika berkunjung beberapa waktu yang lalu ke sana.

“Lantas, apa saja yang baru di Kalibiru?”

Penambahan Spot Gardu Pandang

Apabila tahun lalu hanya tersedia dua gardu pandang (salah satunya harus dipesan dalam paket games), maka sekarang sudah tersedia empat spot gardu pandang. Tiga di antaranya bisa digunakan tanpa paket permainan. Cukup dengan mengeluarkan uang seharga Rp.15.000, kita bisa naik berpuas diri berfoto di spot tersebut. Hanya saja, setiap pengunjung dibatasi waktunya 5 menit untuk sekali naik. Adapun, satu gardu pandang dapat menampung dua orang sekaligus.

Kalibiru
Spot dua gardu pandang

Selain spot di atas yang default-nya bertengger di pohon, juga terdapat spot lainnya yang berdiri sendiri, ukurannya pun jauh lebih luas. Namanya adalah spot panggung, dapat menampung tiga orang sekaligus.

? #kalibiru #kalibirukulonprogo

A photo posted by Ijal Arnoldd (@ijalarnoldd) on

Dibanding tempat lainnya, pemandangan di spot dua tak kalah indah. Dijadikan alternatif apabila antrian di spot satu sudah terlalu panjang. Umumnya, di akhir pekan perlu berangkat lebih pagi supaya dapat antrian lebih awal. Tak mau kan nunggu lebih dari dua jam?

Kualitas Foto yang Semakin Bagus

Foto di spot gardu pandang memang rawan mendapati backlight. Kalau tidak hati-hati, hasilnya wajah model jadi gelap. Namun apabila kita membuat objek terlihat terang, hampir dipastikan background berupa Waduk Sermo dan perbukitan Menoreh hampir tak kelihatan, terlalu terang dan mendekati putih.

Oleh karenanya, untuk menghasilkan foto bagus, perlu bawa fotorafer pribadi dengan seperangkat alat fotografinya sebagai pendukung untuk menghasilkan foto yang memuaskan.

Bagi yang hanya mengandalkan smartphone, bisa menggunakan fitur HDR (High Dynamic Range). Saya rasa, sebagian besar smartphone keluaran baru menyediakan fitur ini.

Kalibiru
Speedlite yang tersedia pada setiap gardu pandang

Alternatifnya, pengelola menyediakan jasa foto berkualitas. Satu foto dihargai Rp.5.000 dengan minimal pemesanan 4 buah. Foto tersebut diberikan ke pengunjung dalam bentuk softcopy dan tidak menyediakan versi cetak.

Kenapa foto dari penegelola saya bilang berkualitas?

Satu, mereka menyiapkan speedlite atau dengan nama lainnya external flash yang terpasang di setiap spot gardu pandang. Seperti kita tahu, speedlite ini membantu pencahayaan tambahan agar komposisi cahaya merata, baik bagi objek maupun background.

Kedua, mereka menggunakan kamera yang secara bawaann kualitasnya sudah bagus. Rata-rata menggunakan kamera Canon seri dua digit, seperti 60D atau 70D, ditambah kombinasi lensa “gelang” merah.

Canon L Series
Sumber: kehlog.com

Sebagai informasi, lensa Kamera Canon yang ditandai dengan “gelang” merah merupakan seri “Luxury” dengan kualitas yang tak diragukan lagi.

***

Setiap kali berkunjung ke sana, saya sering dibuat heran oleh sebuah batu. Nama batunya adalah Kris Bennet. Dinamai sama persis oleh penemunya yang merupakan pelancong berkebangsaan Inggris. Saya selalu mempertanyakan diri, kenapa batu tersebut dinamai seperti itu? Apakah tidak ada warga lokal yang sebelumnya menemukan batu tersebut? Saya yakin betul hal tersebut sebenarnya ada.

Batu Kris Bennet
Batu Kris Bennet

Kan menarik, kalau nama batu tersebut Sukiman misalnya. 😀

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *