Kedai Nyah Tan Li
Kedai Nyah Tan Li

Kedai Nyah Tan Li, Berawal dari Obrolan Saat Makan

Sudah beberapa bulan ini saya bergabung di Komunitas Blogger Jogja. Jika selama ini aktivitas blogging dilakukan secara independen (tak tergabung dalam komunitas manapun), kali ini saya coba untuk memperluas jaringan dengan menjadi salah satu anggota di grup Facebook tersebut. Perkenalan pertama dengan grup tersebut (dan juga beberapa anggotanya) bermula dari Juguran Blogger Indonesia yang diadakan beberapa waktu lalu.

Sebuah komunitas tak hanya mengumpulkan anggota sebanyak-banyaknya. Selalu ada kegiatan positif yang dilakukan untuk berbagai tujuan. Semisal, RAUL (Rabu Gaul), acara rutin mingguan yang diadakan dalam rangka mempererat tali silaturahmi antar anggotanya. Biasanya, RAUL diadakan di tempat makan tertentu, mulai dari angkringan, kafe sampai dengan kedai. Setelah kopdar (gathering) diadakan, normalnya semua anggota diberikan PR (Pekerjaan Rumah) yang pastinya, tak jauh-jauh dari menulis ulasan tentang tempat makan yang dikunjungi waktu itu.

Tak terkecuali acara 15 Juni lalu yang bertempat di Kedai Nyah Tan Li. Sejujurnya, ini kali pertama saya mengikuti RAUL semenjak beberapa kali berkilah untuk tidak hadir. Beberapa wajah anggotanya sudah familiar, beberapa di antaranya hanya saya temui di media sosial. Atau bahkan beberapa kali saya mengunjungi blognya, tapi tidak tahu yang mana orangnya.

Kedai Nyah Tan Li sendiri berada di Desa Wisata Kasongan, desa yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Memang, agak susah untuk menemukan lokasinya karena posisinya yang sedikit tersumbunyi dan berada di pojokan dari bangunan lain. Namun, bagi yang terbiasa ke Kasongan atau minimal pernah ke sana, mestilah pernah melewati sentra kerajinan keramik dengan jenama PT Timboel. Nah, Kedai Nyah Tan Li berada persis di sebelah barat bangunan utama PT Timboel. Sebagai informasi, Kedai Nyah Tan Li berada satu manajemen di bawah bendera PT Timboel.

***

Jam 16.00, sesuai dengan jadwal mulainya acara, saya tiba di sana tepat waktu. Beberapa pengurus menyambut saya sekaligus memperkenalkan diri dengan ramah. Sembari menunggu anggota lain, saya dipersilakan untuk melihat-lihat kerajinan yang dijual di PT Timboel. Tak hanya melihat-lihat, di sana saya (kami) juga diizinkan mengambil gambar sepuasnya, yang notabene hal tersebut dilarang untuk pengunjung (calon pembeli) umum.

Ada banyak jenis kerajinan yang dijual di PT. Timboel, mulai dari barang berkilau berbahan kaca, kerajinan bentuk hewan dari tanah liat, bahan berupa kayu, ada juga yang terbuat dari bahan kawat dan logam lainnya. Harganya pun sangat variatif, seperti vas bunga yang berkisar seratus ribuan, sampai dengan patung babi seharga ratusan juta.

Jam sudah menunjukan pukul 17.00, sedikit terlambat dari jadwal, Pak Timbul Raharjo selaku pemilik PT Timboel memberikan kata sambutan dan sedikit bercerita awal mula kenapa beliau dan istri (yang kemudian biasa disapa Nyah) membangun Kedai Nyah Tan Li.

Seperti kita tahu, makan (apalagi makan malam) sambil ngobrol merupakan suatu hal yang menyenangkan. Selalu ada hal baru yang didapatkan setelah selesai acara makan. Hal yang sama, juga dirasakan oleh Pak Timbul dan istri. Bermula dari situlah mereka kemudian membuat sebuah Kedai bernama Nyah Tan Li. Tak ada makna khusus dari kata Tan Li. Tan Li hanyalah sebuah akronim dari Wetan Kali atau dalam Bahasa Indonesia bisa bermakna timur kali. Sesuai dengan lokasi kedai tersebut yang persis berada di sebelah timur sungai. Sebelum menjadi kedai seperti sekarang, Nyah Tan Li awalnya berbentuk sebuah kafe.

Pak Timboel dan Istri (Nyah)
Pak Timbul dan Istri (Nyah)

Selain kebiasaan suka makan sambil ngobrol, alasan lainnya Pak Timbul dan istri membuat kedai tersebut adalah ketiadaan tempat untuk menyambut tamu yang berkunjung. “Daripada sering makan di luar, kenapa tidak membuka tempat makan sendiri? Sembari mengaplikasikan resep keluarga pada tamu.”, begitu celoteh beliau.

Di Kedai Nyah Tan Li, terdapat beberapa menu yang umumnya bisa kita temui di tempat makan lain, hanya saja dengan resep dan ciri khasnya masing-masing. Saya sempat bertanya, makanan apa yang bisa direkomendasikan?

Ada dua makanan yang cukup sering dipesan oleh pembeli, khususnya wisatawan mancanegara, ialah Nasi Pedas dan Nasi Goreng Kecombrang.

Kecombrang sendiri, walau tak susah dicari, namun pada dasarnya tak lazim ada pada makanan di Jogjakarta. Bunga kecombrang umumnya familiar ada pada makanan yang ada di daerah Banyumas. Salah satu contoh pengaplikasiannya ada pada urap yang saya makan beberapa waktu lalu pada acara Juguran Blogger Indonesia. Nah, karena Kecombrang jarang ditemui, istri Pak Timbul berinisiatif menjadikannya sebagai salah satu ciri khas pada menunya. Blogger lain sempat bertanya, “Tak susah kah mencari Kecombrang?”. Ada banyak yang jual di pasaran. Selain itu, istri Pak Timbul juga punya kebun sendiri dengan tanaman khusus Kecombrang.

Selain dari dua menu rekomendasi di atas, masih ada beberapa menu lainnya yang wajib dicoba, apalagi yang doyan rasa pedas berlebih di lidah.

Daftar Menu di Kedai Nyah Tan Li
Daftar Menu di Kedai Nyah Tan Li

Jam sudah menunjukkan pukup 17.30, adzan magrib dan buka sebentar lagi. Dan saya kedapatan jatah mencicipi makanan dengan menu nasi kuning.

Nasi kuningnya gurih, kering dan tak terlalu berminyak. Dibentuk tampilan menyerupai nasi tumpeng mini. Disajikan dengan ayam suwir pedas ditambah sambal merah yang tak kalah pedas. Sebagai pelengkap juga ditambahkan sayuran seperti tomat an kubis serta potongan telur ayam. Cukup mengenyangkan untuk seorang yang punya badan kurus seperti saya. 😀

Selesai acara ramah tamah dan buka bersama, dilanjutkan dengan kuis serta bagi-bagi souvenir khas Kasongan. Semua dari kami mendapatkan souvenir kucing nan imut ini. Tak hanya penampilannya yang menarik, ternyata pengrajinnya juga kreatif. Beberapa saat kemudian saya baru menyadari kalo benda tersebut adalah kalender. Kalender manual, begitu saya menyebutnya.

Kalender manual
Kalender manual

 

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

10 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *