Loksado
Loksado

Loksado, Wisata Alam di Kalimantan Selatan

Sejatinya, ini kali kedua saya mengunjungi objek wisata Loksado setelah terakhir ke sana sekitar delapan tahun yang lalu dalam acara study tour sekolah. Membandingkan dengan beberapa tahun yang silam, jelas sekarang sudah jauh lebih bagus, baik itu jalan menuju lokasi, pelayanan, fasilitas, serta wahana yang tersedia, seperti Bamboo Rafting misalnya.

Lokasi, Alat Transportasi dan Perjalanan

Loksado merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Berjarak kurang lebih sekitar 40 kilometer dari pusat kota Kandangan. Jalan yang tersedia sudah cukup bagus, mulus dan lebar walau ada beberapa bagian masih dalam pelebaran dan perbaikan dikarenakan longsor atau sudah kurang layak jalan. Dikarenakan daerah pegunungan, tentulah jalannya naik turun serta banyak tikungan tajam. Di beberapa tikungan tajam sudah disediakan cermin untuk memastikan kendaraan yang lewat bertolak arus dengan kita.

Ada beberapa alternatif alat transportasi yang bisa digunakan. Jika traveller menggunakan kendaraan pribadi, baik itu mobil atau sepeda motor, maka tidak akan menjadi masalah. Apabila dalam bentuk rombongan, saya sarankan untuk menyewa mobil taksi sejenis mobil Colt L300 (sekadar mengantar, bukan sewa harian) untuk langsung menuju lokasi. Apabila traveller sendirian dengan dana yang terbatas misalnya, bisa menggunakan angkutan pedesaan. Hanya saja yang perlu dicatat adalah jam keberangkan dari terminal ke tempat wisata adalah sebelum jam 12.00. Sedangkan apabila kita ingin kembali dari Loksado ke kota berangkat sekitar jam 06.00.

Akomodasi dan Konsumsi

Jika berencana untuk menginap beberapa hari, terdapat beberapa homestay di Loksado. Harganya variatif mulai dari Rp.150.000,- sampai dengan Rp.250.000,- per kamar dan hampir semua homestay tidak menyediakan sarapan. Satu kamar bisa ditempati sampai dengan tiga orang. Extra bed dikenakan biaya tambahan sekitar Rp.50.000,-, memungkinkan kamar dapat ditampungi oleh empat sampai enam orang. Apabila dalam rombongan dengan jumlah yang banyak, akan lebih baik menyewa satu rumah dengan harga mulai dari Rp.500.000,- per hari. Bisa digunakan untuk sepuluh orang bahkan lebih. Tentu, tidak semua orang kebagian kasur yang empuk.

Ingin merasakan sensasi lain? Atau dana terbatas untuk penginapan? Alternatifnay bisa mendirikan tenda. Lokasinya di sekitar air terjun Haratai, jalannya sejauh 8 kilometer dari pusat desa Loksado. Hanya sepeda motor yang dapat digunakan untuk menuju lokasi tersebut. Tersedia ojek jika tidak mempunyai kendaraan pribadi, biayanya sekitar Rp.70.000-, sampai dengan Rp.100.000,- untuk perjalanan pulang dan pergi. Jika ingin tantangan lebih, kita bisa berjalan menyusuri jalan beralas semen. Berhati-hatilah, ketika jalanan basah karena hujan misalnya. Jalan dengan bahan dasar semen cenderung ditumbuhi lumut. Pengalaman saya menyusuri dengan berjalan kaki membutuhkan waktu kurang lebih satu jam perjalanan.

Oh ya, sebagai informasi tambahan. Di sekitar air terjun Haratai terdapat satu buah pondok yang bisa digunakan untuk bermalam. Bisa jadi, tempat ini dapat digunakan untuk bermalam jika memang kita juga tidak punya tenda. Bangunannya cukup besar dengan pelataran cukup luas, serta tersedia satu bilik tertutup. Di lingkungan sekitar juga terdapat toilet, ruang ganti baju serta tempat berteduh, walau kurang begitu terawat serta banyaknya coretan bertebaran di atap dan dinding. Sayangnya, informasi penggunaan pondok (baik izin maupun biaya) belum saya gali lebih dalam. Nah, tugas traveller yang berkunjung ke sana untuk mencari informasi lebih. 😉

Untuk urusan perut, tidak usah khawatir jika tidak membawa bekal yang cukup. Banyak warung tersedia di lingkungan sekitar. Saya juga sempat bertanya kepada pemilik homestay tentang kehalalan makanan. Dan, untunglah hanya penduduk muslim yang biasanya berjualan membuka warung, sehingga penjual tetap menjaga kehalalan makanan.

Tersedia berbagai nasi dengan variasi lauk, mie instan, snack, minuman hangat serta dingin. Bergegaslah makan malam walau tidak begitu lapar, karena hampir semua warung sudah tutup pada pukul 20.00. Dan jangan harap bisa makan di luar setelah lewat jam 22.00. Jangankan makanan, bahkan orang sekitar pun hampir tidak ada di jalanan. Begitu heningnya ketika malam tiba, hanya suara aliran sungai yang akan kita dengar.

Karena merupakan tempat wisata dan lokasinya lumayan jauh dari pusat kota, maka tentulah harga sedikit lebih mahal. Jika memungkinkan, ada baiknya membawa bekal instan seperti mie, roti dan makanan siap telan lainnya. Selain bisa sedikit lebih hemat, makanan tadi juga bisa menjadi pertolongan pertama pada kelaparan tengah malam.

Spot

Kantor kecamatan Loksado
Nah, sebenarnya bukan kantor camatnya yang menarik, tapi halaman kantor ini bisa digunakan untuk menyaksikan deret pegunungan Meratus. Selain itu, di pagi hari mata kita akan dimanjakan dengan kemunculan sang mentari yang mulai menerpa ratusan gunung dengan sinarnya. Betul-betul mengagumkan lukisan Tuhan yang satu ini. 🙂

Air terjun Haratai

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, jauhnya sekitar 8 kilometer dari pusat desa. Aksesnya tidak begitu sulit, jalannya juga cukup bagus walau sedikit terjal serta beberapa bagian terdapat jurang di kiri atau kanan.

Bamboo Rafting

Dalam keseharian, Lanting atau Rakit biasanya digunakan menyeberang dari satu tepi ke tepi sungai lainnya. Apabila bersifat statis, digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian, bahkan sebelum toilet tersedia di rumah masin-masing, di Lanting juga tersedia toilet. Selain itu, biasa juga digunakan sebagai alat angkut hasil hutan untuk dibawa ke desa.

Untuk menjelajah sungai menggunakan Lanting dikenakan biaya sebesar Rp.250.000,- per satuannya. Kedalaman sungai berpengaruh terhadap kapasitas orang di atasnya, apabila dalam bisa mengangkut tiga orang (tidak termasuk gudei), sedangkan jika surut hanya dapat mengangkut dua orang.

Rafting dengan Lanting membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Di tengah perjalanan kita bisa berhenti untuk sekadar beristirahat atau mengambil foto objek bagus. Sebenarnya ada satu paket rafting yang hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Harganya kurang lebih sama dengan paket pertama, yaitu Rp.200.000,-. Saya sedikit takjub kenapa harganya begitu mahal. Ternyata, Lanting yang sudah sampai sungai bagian hilir harus dibongkar lagi menjadi bambu satuan dan diangkut ke hulu untuk kemudian dirakit kembali menjadi Lanting utuh untuk digunakan pengunjung lainnya. Sayang, biaya yang kita keluarkan untuk rafting tidak termasuk dengan biaya jemput dari hilir sungai ke tempat asal. Menggunakan jasa ojek butuh biaya sekitar Rp.50.000,-.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *