Bukit Lintang
Bukit Lintang

Melihat Hamparan Perbukitan dari Bukit Lintang

Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kata Kalimantan Selatan? Hutan di mana-mana, bukit berjejer dari selatan sampai utara? Ya, ada benarnya juga. Jika kalian berkesempatan main-main di Kalimantan Selatan, kalian akan menyaksikan sendiri betapa panjangnya jejeran Pegunungan Meratus, mulai dari Hulu Sungai sampai dengan Pleihari.

Semakin banyaknya orang yang melakukan traveling/exploring dan semakin mudahnya akses media sosial, membuat beberapa tempat yang dahulunya hanya sekadar biasa, sekarang menjadi tempat wisata. Bukit Batas, Bukit Langara, Bukit Lintang dan Bukit Rimpi beberapa di antaranya.

Sebagai informasi, akan diadakan kegiatan camping ceria dan bersih-bersih sampah di Bukit Lintang. Acara ini sendiri diadakan pada tanggal 16-17 Agustus 2015. Selain dalam rangka memperingati hari kemerdekaan NKRI, acara ini juga sebagai peringatan “ditemukannya” Bukit Lintang.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu bukit yang lagi hits di Kalimantan Selatan, Bukit Lintang namanya. Bukit ini merupakan yang kedua yang saya kunjungi setelah puas menjelajahi Bukit Langara, Hulu Sungai Selatan. Bukit Lintang sendiri sudah lama ditemukan, hanya saja baru populer beberapa saat belakangan dengan adanya bantuan media sosial seperti Instagram atau Facebook.

Rute dan Lokasi

Masih berada di kawasan Kabupaten Tanah Laut, butuh waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi agar sampai ke kota ini (dari Banjarbaru atau Martapura). Jalan yang luas dan mulus memberikan kenyamanan ke tempat tujuan. Hanya saja, jalan ini sedikit padat karena merupakan jalan protokol yang dilalui angkutan umum atau angkutan khusus seperti bahan bakar.

Perhatikan bahwa, tidak jauh dari gerbang selamat datang Kota Pleihari, terdapat sebuah penunjuk Desa Sungai Jelai, Kecamatan Tambang Ulang. Dari sini, kita bisa mengambil arah belokan ke kiri menuju perkebunan sawit. Perlu hati-hati, mengingat jalan di perkebunan sawit hanya bersahabat dengan kendaraan besar, apalagi ketika hujan menghampiri daerah tersebut beberapa hari sebelumnya.

Sedikit susah menjelaskan rute menuju lokasi dari sini, mengingat hampir tidak adanya petunjuk menuju lokasi. Perlu diketahui, beberapa kali pengelola menambahkan petunjuk untuk memudahkan wisatawan, sayang selalu saja tangan tidak bertanggung jawab berkesempatan untuk merusaknya. Berhubung jalan sekitar perkebunan begitu banyak dan bercabang, sederhananya ambil saja jalan mengarah ke bukit yang terdapat sebuah menara pengontrol. Semakin kita dekat dengan bukit tersebut, semakin dekat pula dengan Bukit Lintang dan basecamp-nya, jalan yang akan dilalui pun hanya satu.

Saya sendiri? Sempat beberapa kali nyasar karena hanya mengandalkan feeling. 😀

Tempat Wisata

Tiba di kaki bukit, terdapat sebuah warung yang berperan fungsi sebagai basecamp. Di sekitar sini terdapat danau kecil serta sungai sebagai sumber air. Tempatnya tidak begitu luas, namun cukup untuk menampung beberapa mobil dan ratusan sepeda motor. Dari warung sekaligus basecamp ini pula, seringnya pengelola berkumpul mendiskusikan Bukit Lintang ke depannya.

Di sekitar Bukit Lintang sendiri terdapat beberapa tujuan wisata lainnya, Air Terjun Bidadari salah satunya. Sayangnya, musim kemarau menghadang, air yang biasa bercucuran deras kini hampir tiada debitnya. Saya urungkan mampir ke air terjun tersebut walau barang sejenak. Selain air terjun, terdapat camping ground yang menurut pemilik warung (Musa namanya) lebih bagus pemandangannya dibandingkan dengan Bukit Lintang serta dekat sumber airnya.

Jarak dari basecamp sampai ke Puncak Lintang adalah satu kilometer,  dapat ditempuh dengan durasi sekitar satu jam perjalanan. Sekitar 200 meter dari basecamp tempat kita memulai perjalanan, terdapat sebuah pondok yang lumayan besar sebagai tempat beristirahat. Selain itu, di tengah perjalanan juga terdapat sebuah pohon yang dapat digunakan untuk beristirahat dan bernaung dari terikanya matahari. Selebihnya? Jalan menanjak yang curam.

Semakin ke atas, jalan menuju puncak semakin curam. Beruntunglah beberapa warga, pengelola “tidak resmi” Bukit Lintang berbaik hati menyediakan tali sebagai pegangan agar tidak gampang terjatuh atau terpeleset. Percayalah, bahwa tali ini berguna sekali baik dalam kondisi bukit kering atau becek setelah hujan.

Kesalahan saya, berangkat dari rumah pagi hari dan tiba di lokasi ketika terik matahari menyelimuti diri. Kesalahan ini berimbas pada gampang lelah dan cepat dehidrasi ketika mendaki dan tentu saja membuat beberapa hasil foto “terbakar”. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke Bukit Lintang adalah sore hari, selain karena tidak terlalu terik, foto yang dihasilkan bakal lebih bagus dengan pencahayaan memasuki golden hour. Jika kalian pecinta sunset, bersabarlah sedikit untuk menyaksikan momen tersebut, melihat langsung matahari tenggelam di antara perbukitan merupakan hal yang jarang ditemukan.

[box type=”info”]TIPS: Selalu bawa air minum ketika mendaki bukit.[/box]

Dari puncak, kita bisa menyaksikan hamparan perbukitan di Kalimantan Selatan. Dari jarak lebih dekat, kita juga bisa menyaksikan hamparan kebun sawit, indah namun seringkali dibuat miris olehnya. 🙂

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

3 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *