Baduy
Baduy

Menelisik Kearifan Suku Baduy

Perjalanan saya mulai dari Yogyakarta menuju Pasar Senen menggunakan kereta Progo. Jam masih menunjukkan pukul 01.00 WIB ketika saya sampai di Pasar Senen, itu artinya saya masih punya beberapa jam lagi untuk berangkat ke stasiun selanjutnya, Tanah Abang. Istirahat adalah pilihan yang bijak saat itu, mengingat betapa tidak nyenyaknya tidur di kereta, bagi saya pribadi khususnya. Dengan menumpang bus kota, tujuan selanjutnya adalah stasiun Tanah Abang, tempat ini sekaligus jadi titik kumpul kelompok kami menuju Baduy. Kereta Rangkas Jaya mulai melaju, membawa kami sampai pada stasiun Rangkasbitung. Butuh waktu sekitar dua jam dari stasiun Tanah Abang sampai Rangkasbitung. Sayangnya, kereta ini bukan kereta terakhir yang kami gunakan sebagai alat transportasi. Masih ada satu lagi, minibus menuju Cibologer. Cibologer adalah poin awal di mana kami mulai menjelahkan kaki memasuki hutan dan pedesaan.

Di Ciboleger, kita bisa beristirahat sejenak atau mempersiapkan perbekalan. Tidak usah khawatir tidak bisa menambah bekal, di Ciboleger juga terdapat sebuah minimarket seperti yang biasa kita temui di kota. Jualannya tidak kalah lengkap, ditambah tersedia ATM jika kita membutuhkan uang tunai. Di sekitar sini juga terdapat berbagai macam warung dengan menu yang variatif, seperti soto misalnya. Bagi yang beragama muslim, juga tersedia masjid di sekitar sini. Jangan heran ketika pertama kali turun dari mobil, segerombolan anak akan berhamburan ke arah kita untuk menawarkan tongkat kayu. Harganya bisa dibilang lumayan murah, hanya Rp.2.500,- saja. Tongkat ini bisa berfungsi sebagai pengganti trekking pole, sangat berguna dalam perjalanan.

Bawalah makanan dan minuman secukupnya, hal ini menghindari kelebihan muatan saat kita berjalan. Bawaan yang terlalu berat hanya membuat badan kita cepat lelah. Jika ingin lebih hemat lagi, bawalah air mineral dalam ukuran kecil. Jika habis di jalan? Tenang, hampir sepanjang perjalanan kita bakal menemui sungai, beruntunglah air di sungai tersebut sangat bersih. Orang Baduy paham bagaimana caranya menjaga air sungai agar selalu bersih. Jangan lupa untuk membawa camilan tinggi kalori seperti coklat atau madu.

Untuk mencapai  Baduy Dalam, dibutuhkan jarak tempuh kurang lebih 12 kilomoeter melewati (naik-turun) tiga bukit, serta dengan kondisi tanah yang bervariasi, seperti tanah keras dan tanah merah. Apabila memasuki jalan perkampungan warga, maka jalan menjadi berbatu. Sedangkan jika memasuki dataran tinggi, tanah merah mulai kelihatan. Parahnya, ketika kondisi hujan, tanah menjadi licin dan lengket. Hal yang paling direkomendasikan dalam kondisi tersebut adalah memakai sepatu, bagus lagi kalo sepatunya bersifat anti air.

Ada dua hal yang menurut saya menarik selama perjalan. Pertama, kita bakal sering melihat warga Baduy Dalam menawarkan jasa porter, tidak hanya yang dewasa, bahkan anak kecil umur belasan pun ikut menawarkan. Tapi jangan remehkan tenaga mereka, jangan heran kalau melihat mereka bisa membawa beberapa tas sekaligus sambil berlari di bebatuan tanpa menggunakan alas kaki. Kedua, penjual berbagai macam minumal kemasan botol. Entah secepat apapun kita berjalan, penjual tersebut selalu menunggu di depan kita yang dalam kondisi kelelahan.

Hal menarik lainnya adalah, jika dalam rombongan banyak dan kita tidak hafal semua anggota kita, bisa dipastikan beberapa di antaranya adalah penyusup. Penyusup? Penyusup di sini bukan berarti tindak tanduknya jelek, mereka hanya berusaha mencari rejeki. Ya, biasanya mereka adalah warga luar yang ikut trekking, tapi sesampai di pedalaman, mereka bakal mengeluarkan isi tas yang sebagian besar merupakan souvenir untuk dijual. Polah penjual satu ini memang unik, senantiasa di perjalanan selalu membantu orang yang kesusahan, sampai-sampai saya mengira dia adalah ketua tim rombongan.

Enam jam berlalu, gelap mulai tiba, tapi langkah ini rasanya tidak juga membawa kami sampai ke lokasi. Beberapa orang hampir putus asa, tapi sudah kadung jauh, kembali pulang pun bakal lebih jauh. Namun, secercah harapan tiba, obor mulai menyala di mana-mana, beberapa sudah mendengar riuh keramaian warga. Akhirnya, yang ditunggu tiba juga, kami sudah sampai di sana, perkampungan Baduy Dalam.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *