Pasar Bubrah, Merapi
Pasar Bubrah, Merapi

Mengayunkan Kaki, Menapak Bebatuan Gunung Merapi

Konon, gunung ini merupakan salah satu dari sekian gunung yang paling aktif di dunia. Bahkan ada yang mengingat akan adanya siklus empat tahunan terjadinya letusan eksposif. Ya, dialah Gunung Merapi, keaktifannya selalu menimbulkan kekhawatiran bagi setiap insan, tapi di sisi lain juga sangat dirindukan.

Dengan menggunakan sepeda motor, kami mulai perjalanan dari Jogjakarta menuju Taman Nasional Gunung Merapi melewati Ketep Pass. Jalan utama dari Jogjakarta-Magelang bukanlah hambatan yang berarti, hanya perlu ekstra hati-hati karena banyaknya truk berseliweran di jalan ini. Melalui Ketep Pass, kami mencoba masuk ke Taman Nasional Gunung Merapi. Beberapa jalan sudah diperbaiki, sebagian besar masih terdapat banyak lubang di sana-sini. Karena sudah masuk kawasan Merapi, jalan naik turun sudah barang tentu bakal sering kita temui.

Tiba di parkiran area basecamp; memarkirkan kendaraan, mengecek ulang daftar bawaan serta yang paling penting adalah mendaftarkan diri anggota tim pendakian. Semua dirasa sudah lengkap dan mulai berjalan beberapa ratus meter menuju New Selo.

New Selo sendiri merupakan basecamp serta titik awal pendakian Merapi. Dari basecamp ini juga kita dapat beristirahat sejenak pada dua Joglo yang tersedia atau sekadar mengisi dan menyiapkan ulang perbekalan dari beberapa warung yang masih buka.

Ada empat titik utama selama pendakian, di mana setiap titik terdapat Joglo atau pondokan yang dapat digunakan untuk beristirahat:

  • Gerbang
  • Pos I Watu Belah
  • Pos II Watu Gajah
  • Pasar Bubrah

Memulai Pendakian

Perjalanan dari New Selo menuju gerbang membutuhkan aktu sekitar 50 – 60 menit dengan langkah yang teratur. Dari sini, kita akan melewati jalan berupa konblok serta melewati beberapa kebun warga. Jalur yang dilalui juga sedikit lebih landai dengan kemiringan tidak sampai dengan 45 derajat. Kenapa namanya Gerbang? Karena memang di lokasi ini terdapat gerbang selamat datang sebagai penyambut resmi memasuki Gunung Merapi. Di sini juga terdapat sebuah bangunan berupa pendopo dengan luas kurang lebih 3×3 meter. Bangunan multiguna seperti ini bakal ditemui di setiap pos (kecuali Pasar Bubrah).

Melanjutkan perjalanan dari Gerbang menuju Pos I. Jarak yang akan ditempuh kurang lebih sejauh 0.5 kilometer dengan jalan yang cukup menanjak. Dari jalan ini, kita bakal lebih sering menemui bebatuan besar serta jalan sempit untuk dilewati. Beberapa di antaranya membutuhkan sedikit keahlian memanjat untuk menuju titik lain. Jika dalam kondisi perjalanan normal dan konstan kita akan sampai ke Pos dua dalam durasi 45 menit. Akan tiba di mana kita bakal melewati sebuah batu dengan belahan di tengahnya (asal usul dinamakan sebagai Watu Belah) sebagai jalan, tidak jauh dari situ kita akan menemukan bangunan sebagai penanda Pos I.

Beberapa ratus meter dari Pos I, kita akan menemui jalan bercabang. Ke arah kiri sesuai dengan papan petunjuk puncak dan ke arah kanan. Apabila mengikuti jalur yang biasa (sesuai papan petunjuk), kita akan menuju Pos II. Sedangkan jika mengikuti jalur lainnya (jalur alternatif), kita tidak akan pernah menemui Pos II, bonusnya, melalui jalur ini diklaim sedikit lebih ringkas dan lebih mudah.

Semenjak tragedi yang menimpa Eri Yunanto beberapa waktu silam, ditegaskan lagi bahwa dilarangnya mendaki sampai Puncak Garuda, apalagi Puncak Tusuk Gigi. Larangan ini sebenarnya sudah ada jauh hari, bahkan sebelum kecelakaan jatuhnya seseorang ke kawah. Dan kami janji untuk tidak mendaki sampai puncak Merapi lagi.

Baik melalui jalur yang biasa ataupun jalur alternatif, titik temunya akan sama, camping ground sebelum Pasar Bubrah. Untuk mencapai Pasar Bubrah sendiri masih melewati dua bukit dengan durasi perjalanan kurang lebih 30 menit. Jika dalam kondisi ramai pendaki, di sepanjang kiri dan kanan jalan tidak heran kita temui berjejer tenda dengan segala aktifitasnya. Memasang tenda di sekitar sini memberikan kekurangan sekaligus kelebihan, kekurangannya adalah jauh dari puncak, sedangkan kelebihannya memungkinkan tenda dipasang lebih kokoh dengan pasak dikarenakan alasnya yang masih berupa tanah.

Tiba di Pasar Bubrah. Di karenakan sudah berdekatan dengan puncak dan kawah, hampir tidak menemukan dataran yang berupa tanah murni, kebanyakan di antaranya merupakan bebatuan dan pasir. Itulah kenapa, memasang pasak tenda akan sangat susah sekali di lokasi ini, bahkan menentukan posisi datar saja dirasa sedikit sulit. Selama tidak ada badai dan angin yang bertiup kencang, tidak masalah untuk tidak menancapkan pasak untuk memperkencang tenda.

Menuju Puncak Tertinggi, Puncak Garuda

Dari Pasar Bubrah masih menanjak beberapa puluh meter dengan jalan dipenuhi pasir. Mendekati Puncak Garuda, hanya bebatuan yang nampak di depan mata. Keahlian kita diuji dalam memanjat di sini. Berhati-hatilah terhadap pijakan dan pegangan pada batu, tidak semua batu menyatu dengan tanah.

Dari sini juga, kita akan sering mendengar terikan “Awas Batu! Batu!” yang menandakan adanya batuh jatuh menggelinding dari atas, sering-seringlah melihat ke atas baik dalam posisi naik ataupun turun. Kondisi tanjakan yang ekstrim dan medan yang berat membuat pendakian terasa lama, satu jam kiranya.

Dikarenakan erupsi 2010 silam, konon puncak yang berbentuk Garuda tersebut sudah mulai hilang.

Turun dari puncak tidak butuh waktu lama, hanya perlu 30 menit atau kurang.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *