Gunung Kukusan
Gunung Kukusan

Menikmati Kabut di Gunung Kukusan

Saya suka alam, penikmat alam tentunya.

Siapa sih yang tidak suka melihat munculnya mentari di sela pegunungan? Bahkan, seorang yang bukan pecinta alam pun akan dibuat kagum oleh suguhan foto ciptaan Tuhan tersebut.

Sayangnya, alam punya siklus sendiri, tapi kadang sulit untuk diprediksi. Apa daya jika jika berekspektasi melihat sunrise di pegunungan, namun yang kita dapatkan hanya berupa kabut. Yang bisa dilakukan adalah berdamai dengan diri, mencoba menikmati keindahan lain dari kabut.

Pagi itu, 13 September 2015, saya (kami lebih tepatnya) sudah mempersipkan diri berangkat dari Kota Yogyakarta menuju Kulonprogo, daerah Pegunungan Menoreh. Sengaja pagi buta, supaya bisa melihat sunrise katanya. Tidak seperti pagi buta biasa, hari itu terasa sedikit lebih hangat, walau masih butuh baju hangat tentu saja. Perjalanan kurang lebih dua jam kami tempuh tanpa kendala berarti. Walau kadang masih terlihat di wajah kami aura ngantuk terpapar dari diri.

Jalanan masih begitu sepi dan lengang, sesekali kemunculan truk pengangkut barang dan pedagang sayur mengagetkan kami di tikungan tajam. Beberapa titik, saya juga menyaksikan beberapa orang dengan barang jualan, munggu bus antar kota pikir saya. Beberapa di antara mereka bahkan asik bersenda gurau di pagi buta. Salah satu keindahan yang jarang saya saksikan jika berada di kota.

Kendaraan ini masih saja berjalan mengikuti penunjuk jalan arah Gunung Kukusan. Sampai pada satu pertigaan, saya tersadar, di daerah tersebut ternyata ada banyak gunung tujuan, seperti Gunung Kukusan, Gunung Widosari dan Gunung Jaran.

Gunung Kukusan sendiri masuk dalam Desa Wisata Nglinggo, Kulonprogo. Selain beberapa gunung di atas, di desa ini juga ditemukan wisata lain seperti Kebun Teh Nglinggo dan Air Terjun Nglinggo. Jika tujuan utama kita adalah Gunung Kukusan, maka sebetulnya sudah dapat paketan Kebun Teh Nglinggo mengingat area kebun the tersebut berada persis di area parkir.

Sayangnya, semenjak pagi itu, kabut masih saja membayang-bayang dibalik pemandangan yang saya harapkan.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *