Menikmati Sunrise di Gunung Api Purba

Bagi sebagian orang, tidak ada yang lebih menarik selain menikmati terbitnya matahari dari ketinggian. Ya, Gunung Api Purba bisa jadi merupakan salah satu spot di mana kita bisa menyaksikan keindahan tersebut.

Lokasinya di Gunung Kidul, tepatnya desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk dengan ketinggian sekitar 200 sampai 700 meter di atas permukaan laut. Membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam perjalanan dari kota Yogyakarta. Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, dinyatakan gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba.

Biaya masuk ekosiwata ini adalah Rp.7.000,00. Oya, sedikit info bagi yang belum tau Embung Nglanggeran. Embung Nglanggeran atau biasa disebut Kebun Buah Nglanggeran merupakan kolam tampungan buatan. Jaraknya hanya 1,5 km dari pintu masuk Gunung Api Purba. Biasanya biaya masuk sudah termasuk dalam tiket ketika kita beli di sekretariat Gunung Api Purba, belum termasuk biaya parkir tentunya.

Berdasarkan informasi terbaru, sedikit ada perubahan biaya masuk untuk dua ekowisata ini. Pertama, biaya masuk untuk Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran sudah dipisah. Masing-masing ekoswisata memiliki loket sendiri. Kedua, biaya masuk untuk Gunung Api Purba berbeda untuk siang hari dan malam hari, di mana siang hari sebesar Rp.7.000,00 sedangkan untuk malam hari sebesar Rp.9.000,00.

Ketika melangkahkan kaki pertama kali, kita akan disambut oleh sebuah bangungan Joglo pada pintu masuk. Selain itu, tersedia juga gardu pandang pada beberapa pos dengan ketinggian yang berbeda-beda, mulai dari paling rendah, sedang sampai dengan yang tinggi. Kalau paling tinggi? Ya puncaknya itu. Dari beberapa gardu pandang tersebut kita bisa menyaksikan sawah yang menghijau, rumah-rumah penduduk, serta beberapa menara stasiun televisi yang menjulang tinggi.

Perjalanan menanjak membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan. Sepanjang perjalanan sudah dilengkapi dengan petunjuk untuk memudahkan pendaki agar tidak tersesat. Beberapa plang juga dilengkapi dengan beberapa himbauan, seperti tidak buang sampah sembarangan misalnya. Tersedia juga alat bantu seperti tali serta bambu untuk memudahkan pendaki untuk memanjat.

Selalu saya peringatkan untuk selalu berhati-hati jika menanjak, tentu ada beberapa bagian jalan yang sifatnya licin, sempit dan mudah longsor. Jangan lupa selalu berdoa setiap memulai perjalanan.

Sesampai dipuncak bergegaslah untuk mendirikan tenda, tempat yang terbatas membuat para pendaki untuk berebut untuk mendapatkan tempat terbaik. Jika posisi paling puncak penuh, tidak akan terlalu menjadi masalah. Masih ada beberapa tempat di bagian bawah. Saya sendiri lebih senang pada posisi sedikit ke bawah ini. Selain karena rimbun dipenuni pepohonan, alasnya juga merupakan tanah. Ada baiknya membawa bekal lotion anti nyamuk, kalian tahu sendiri daerah rimbun tanaman mestilah banyak nyamuk.

Sambil menunggu pagi, kita bisa bercengkrama dengan sesama sambil membakar api unggun misalnya. Jika dalam kelompok yang lumayan banyak anggotanya, berbagilah untuk membawa kayu bakar dari bawah dikarenakan keterbatasan sumber kayu dipuncak. Dan ingat, jangan menebang kayu yang masih hidup. 🙂

Subuh datang, pagi hari menjelang, segeralah menuju puncak. Jika cuaca bagus, kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbit dari sini. Dari puncak ini juga kita bisa melihat Embung Nglanggeran dari kejauhan.

Tips

Untuk mendapatkan keindahan maksimal, saya sarankan sebelum terbenam matahari menuju Embung Nglanggeran terlebih dahulu. Selain karena meminimalisir cuaca yang panas, di tempat ini kita bisa menyaksikan sunset menerpa Kota Jogja.

Ketika gelap datang, bisa dilanjutkan dengan menanjak Gunung Api Purba, dilanjutkan paginya untuk menikmati sunrise dari puncak tertinggi.

Happy travelling. 🙂

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *