Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo

Menyibak Indahnya Ranu Kumbolo, di Bawah Tenangnya Sang Mahameru

Malam itu, 14 November 2014, saya harus berlari-lari membawa tas carrier dari Kridosono sampai Lempuyangan untuk mengejar kereta. Pasalnya, bus TransJogja yang saya tumpangi telat, sialnya lagi tidak ada ojek yang menunggu pelanggan di sekitar Kridosono, efek hujan mungkin. Kalau orang lain berharap kereta datang tepat waktu, ini kali kedua saya berdoa agar kereta terlambat beberapa waktu, barang sepuluh menit saja. Dan doa saya terkabul, calon penumpang lain menggerutu tidak karuan.

Transportasi

Kereta Gaya Baru Malam yang saya tumpangi bergerak perlahan menuju pemberhentian terakhir, Stasiun Gubeng. Sesuai perkiraan, kereta ini akan sampai di Surabaya pukul 02.00. Ya,  inilah tempat pertama yang saya tuju sebelum melanjutkan perjalanan ke Malang. Masih ada jeda beberapa waktu sebelum keberangkatan kereta selanjutnya, akan lebih baik untuk beristirahat walau sebentar pikir saya. Kereta Bima mulai melaju pukul 06.00 dari Gubeng menuju Malang Kota Baru dengan durasi perjalanan kurang lebih dua jam.

Dari stasiun Malang, kita bisa menyewa angkutan umum menuju Pasar Tumpang untuk sekali perjalanan. Menyewa dalam anggota kelompok banyak tentu lebih direkomendasikan, karena tentu saja biaya yang dikeluarkan per orang lebih murah. Satu angkutan umum bisa menampung 6 sampai dengan 12 orang. Seandainya jumlah anggota kelompok kurang dari 5, kita bisa menunggu rombongan lain untuk berangkat bersama, konsekuensinya hanya rugi waktu. Jadi tinggal kita yang menentukan, membayar lebih atau menunggu agak lama. Adapun biaya penyewaan angkutan umum ini sebesar Rp.120.000,-. Jikapun terpaksa untuk tidak menyewa mobil, kita bisa menumpang angkutan ke Terminal Arjosari, dari terminal dilanjutkan menuju Pasar Tumpang.

Di Pasar Tumpang, kita bisa mempersiapkan bekal ulang jika memang dirasa kurang. Pastikan kembali bawaan kita sudah lengkap sebelum melakukan pendakian, selain logistik dan peralatan pribadi tentunya. Ialah fotokopi KTP atau identitas lainnya sebanyak dua buah, surat keterangan sehat dari dokter, formulir pengajuan penanjakan beserta informasi barang bawaan. Perjalanan dari Pasar Tumpang ke Ranu Pani bisa menggunakan truk atau mobil Jeep. Menggunakan mobil truk jelas lebih murah dari segi biaya dan bisa menampung lebih banyak penumpang. Biaya per orang dikenakan Rp. 30.000,- sampai RP.45.000,-, tergantung kesepakatan dengan pengantar.

Seperti basecamp pendakian gunung lainnya, di Ranu Pani kita juga diwajibkan melakukan registrasi serta membayar uang retribusi sebesarRp.37.500/orang/hari. Ketika di Ranu Pani, pastikan lagi barang yang kita butuhkan di atas nanti sudah terbawa semua. Pengalaman buruk saya menuju Ranu Kumbolo, satu kantong logistik tertinggal di pondok karena lupa dimasukkan ke dalam tas. Saran saya, tidak usah terlalu banyak membawa air minum karena hanya menambah beban. Jika memang pendakian diniatkan sampai Puncak Mahameru, cukup bawa botol kosong secukupnya, botol kosong tersebut bisa kita isi ketika sampai di Ranu Kumbolo.

Galeri

Ranu Kumbolo ini merupakan salah satu dari beberapa telaga air yang terdapat di gunung Semeru. Ada Ranu Pani, Ranu Regulo dan Ranu Kumbolo. Ranu sendiri berarti telaga. Sedangkan Kumbolo ini mungkin dari gunung Regulo, gunung dari jajaran gunung Bromo Tengger Semeru sebelum ke puncak Mahameru.
Kang Bison

Perjalanan Mendaki

Perjalanan menanjak dimulai dari pos perizinan Ranu Pani menyusuri jalan desa. Beberapa ratus meter di depan, kita bakal menemui sebuah pos besar dan gerbang selamat datang. Silakan menyusuri jalan pinggiran kebun milik warga sampai menemui jalan kecil bercabang. Dalam pendakian kali ini, saya melewati jalur Watu Rejeng. Ada dua jalur yang bisa digunakan untuk mendaki, pertama jalur Watu Rejeng seperti yang saya sebutkan. Kontur jalan ini naik turun, menanjak konstan sedikit demi sedikit dan lebih jauh karena mengitari beberapa bukit. Sedangkan yang kedua merupakan jalur Ayak-ayak. Jalur kedua ini sedikit lebih dekat, hanya saja kita harus melewati bukit dengan tanjakan yang curam.

Jarak perjalanan dari basecamp sampai Ranu Kumbolo kurang lebih 10,5 kilometer. Terdapat empat pos yang bakal kita temui selama melewati jalur Watu Rejeng, di mana pos keempat persis berada di dataran atas sekitar Ranu Kumbolo. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke pos pertama dari titik keberangkatan. Hampir setiap pos terdapat warga yang berjualan. Jualan yang dijajakan bermacam-macam, seperti gorengan (bakwan dan tahu isi), kacang, semangka serta rokok. Harganya terbilang mahal, untuk semangka dan goreangan misalnya dikenakan Rp.5.000,- per dua biji/potong. Khusus pos pertama, penjual biasanya berada di sana sampai pukul 17.00, jika jualannya belum habis tentunya. Bonusnya, di pos pertama juga biasa tersedia api unggun, begitu bermanfaat untuk sekadar menghangatkan badan apabila kondisi cuaca sedang dingin-dinginnya, khususnya karena kehujanan.

Butuh waktu sekitar empat sampai enam jam menuju Ranu Kumbolo. Beberapa kilometer dari pos tiga, jalan sudah mulai landai, danau juga sudah mulai terlihat dari kejauhan. Nampak di seberang sudah ada beberapa tenda yang berdiri. Ada banyak spot menarik untuk mendirikan tenda, biasanya kebanyakan pendaki mendirikan tenda persis di sekitar tanjakan cinta. Saya pribadi lebih suka mendirikan tenda persis di bawah pos empat. Selain karena sedikit lebih hening, dari daerah ini pemandangannya lebih bagus, sebut saja jejeran tenda di seberang danau.

Pagi hari menjelang, inilah saat-saat di mana puncak keindahan Ranu Kumbolo muncul. Menyaksikan terbitnya sang mentari di antara dua bukit. Kemilaunya danau kena terpaan cahaya matahari. Serta segala aktifitas yang dilakukan pendaki untuk memulai hari baru. Rencana kami pagi itu sederhana, memasak sarapan, merapikan peralatan, menyaksikan Oro-oro Ombo dibalik tanjakan cinta kemudian kembali menuju basecamp. Konon ceritanya, jika kita bisa berjalan menyusuri tanjakan cinta tanpa berhenti, cinta kita akan abadi dengan orang yang kita kasihi. Well, sayang sekali, kali ini cinta saya terbatas oleh fisik yang dibuat ngos-ngosan karena curamnya tanjakan tersebut. 😀

Matahari mulai meninggi, inilah saat di mana kami harus kembali pulang.  Jalur yang kami lewati sama saja dengan keberangkatan, hanya saja kali ini lebih dingin, selain karena diselimuti kabul tebal, hampir sepanjang perjalanan juga diguyur hujan. Beruntunglah kami sampai basecamp dengan selamat, tanpa kurang satupun.

Dari Ranu Pani, lagi-lagi kita akan menggunakan truk atau mobil Jeep untuk kembali ke Pasar Tumpang. Di Pasar Tumpang sebenarnya tidak ada trayek khusus menuju terminal atau stasiun. Untungnya, kadang ada saja angkutan yang berkeliaran mencari penumpang untuk kembali pulang. Ya, selanjutnya tujuan kami adalah rumah. Seperti yang sering disebutkan pendaki, tujuan utama pendaki bukanlah puncak, melainkan rumah tempat kembali. 🙂

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *