Gambar: http://dablim.deviantart.com/art/GNU-Linux-2015-Wallpaper-505451298
Gambar: http://dablim.deviantart.com/art/GNU-Linux-2015-Wallpaper-505451298

Perangkat Lunak (Software) Pengolah Foto di Linux

Fotografi dan traveling, agaknya merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Ada banyak motif seseorang dalam mengabadikan momen ketika jalan-jalan. Baik untuk sekadar dokumentasi pribadi, pamer di media sosial, berbagi kesenangan dengan kolega, dan segudang alasan lainnya.

Ada pula yang beranggapan, dengan memotret suatu tempat, itu berarti kita membuat tempat tersebut tetap hidup. Konon, ada beberapa orang yang akhirnya membatalkan rencana traveling-nya dikarenakan ketiadaan alat fotografi.

Foto yang bagus, didukung oleh beberapa unsur di dalamnya. Walau begitu, fotografer tetap memegang peranan penting akan  bagusnya suatu foto, baik saat pre-processing maupun post-processing. Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan foto yang menarik, di antaranya: angle yang pas, komposisi yang seimbang, dan tak ketinggalan ubah foto menggunakan perangkat lunak. “Tunggu? Fotonya ternyata edit-an?”

Tak ada yang salah dengan mengolah foto menggunakan perangkat lunak. Ibaratnya, wanita yang dasarnya sudah cantik memang enak dipandang mata. Tapi, tak ada salahnya memoles diri dengan make-up agar tampil lebih menarik. Asal tak berlebihan saja. 😀

Sayangnya, foto olahan yang bagus sering kali diidentikkan dengan Photoshop. Seolah Photoshop hanya satu-satunya aplikasi pengolah foto di desktop. Padahal ada banyak perangkat lunak (software) lainnya, baik berbayar maupun gratis dan sumber terbuka (open source) di luaran sana. Beberapa di antara sebagai bisa dijadikan alternatif dan pengganti, ada juga yang berperan hanya sebagai pendukung.

“Fotonya bagus, jaGo nih Sotosopnya!”

Saya sudah lama menggunakan Linux, dan tetap dapat mengolah beberapa foto yang tayang di Bentang Nusantara tanpa Photoshop. Selain karena harga produk Adobe yang tak terjangkau, semua produknya juga tak ada yang berjalan native di Linux. Menggunakan Wine juga tak banyak membantu. Oleh karena hal tersebut, saya hars pintar-pintar diri mencari dan menggunakan perangkat lunak pengganti, mencari dokumentasi tutorial, kemudian mengaplikasikannya.

Say hai to Luna!
Say hai to Luna, ElementaryOS!

Sebagai informasi, saya menggunakan sistem operasi ElementaryOS 32bit versi Luna yang berbasis Ubuntu 14.04 LTS. Dapat dipastikan, aplikasi yang saya sebutkan di bawah juga dapat berjalan normal di Distro Linux turunan Ubuntu lainnya seperti Linux Mint, Kubuntu atau bahkan Ubuntu itu sendiri. Saya tidak menjamin hal yang sama terjadi pada Distro turunan Red Hat seperti Fedora misalnya, karena saya tidak dapat melakukan ujicoba secara langsung pada sistem operasi tersebut. 😀

Daftar perangkat lunak pengolah gambar di bawah gratis, bahkan sumber terbuka (open source) semuanya. Cukup dengan modal koneksi internet untuk instalasi, kita sudah dapat menggunakannya secara bebas.

GIMP (GNU Image Manipulation Program)

Merupakan perangkat lunak alternatif Adobe Photoshop. Tak hanya berjalan di Linux, juga tersedia binary untuk sistem operasi Windows dan Mac.

sudo apt install gimp

Saya jarang sekali menggunakan GIMP, atau malah tidak pernah sama sekali. Tampilan antar mukanya cukup ribet dan kurang nyaman bagi yang terbiasa menggunakan Photoshop (walau sudah tersedia tutorial membuatnya menjadi Photoshop look-alike).

Antar muka GIMP
Antar muka GIMP

Alasan lainnya, saya memang tidak pernah mengolah foto sampai ekstrim, biasanya hanya sekadar menaikkan saturasi foto yang pucat, mengatur ulang white balance serta pengaturan komposisi lainnya.

Shotwell

Fungsi utamanya, perangkat lunak ini merupakan photo manager dan photo viewer. Foto yang ada di internal storage dapat dikelompokkan ke dalam event berdasar tanggal, tahun, dan bulan. Memudahkan kita untuk mencari foto dengan kondisi tertentu.

sudo apt install shotwell

Selain itu, terdapat juga beberapa tool tambahan seperti unggah ke berbagai media sosial, ubah pengaturan dasar foto, tambah tag, hapus, dan lain sebagainya.

Antar muka Shotwell
Antar muka Shotwell

Awalnya, mengorganisir ratusan foto dirasa cepat dan nyaman. Seiring bertambah gendutnya jumlah foto kita, Shotwell sedikit kewalahan mengorganisir fotonya. Dalam kondisi jumlah foto saya sebanyak 25.000, Shotwell sudah tidak dapat menanganinya. Alhasil, hanya fitur photo viewer yang dapat digunakan melalui file manager Pantheon bawaan Elementary OS.

Pada dasarnya, Shotwell tidak terlalu cocok untuk mengorganisir foto dengan format RAW. Karena setiap kali kita mengimpor foto dari internal storage, Shotwell otomatis akan membuat foto duplikat dalam format JPG sebagai cache. Menambah ukuran berkas foto menjadi 30%, cukup membuat boros internal memory kita.

Ulasan lengkap mengenai Shotwell bisa dibaca di blog pribadi saya.

Darktable

Beberapa waktu lalu, Darktable merupakan pengolah foto format RAW favorit saya. Sayangnya, versi terbaru dari perangkat lunak ini hanya optimal berjalan di mesin 64bit, belum lagi kebutuhan memori yang tinggi seringkali membuat aplikasi menjadi crash. Lebih menyebalkan lagi, setiap kita membuka menu tertentu akan selalu muncul peringatan kalau perangkat lunak tersebut tidak direkomendasikan untuk mesin 32bit.

sudo apt install darktable

Darktable sangat sederhana. Cukup mudah dipahami bagi yang familiar dengan aplikasi pengolah foto, seperti Adobe Lightroom misalnya. Pengaturan saturasi, kontras, kecerahan, white balance, resize dan ekspor sudah tersedia di dalamnya. Biasanya, saya gunakan untuk ekspor gambar dalam format RAW menjadi format JPG dalam mode batch.

Antar muka Darktable
Antar muka Darktable

Salah satu fitur yang saya suka dari Darktable adalah Create HDR. Memungkinkan kita menggabungkan beberapa foto sekaligus dengan komposisi yang berbeda, menjadi satu gambar dengan kompisisi yang pas. Fitur ini cocok sebagai pendukung teknik bracketing dalam fotografi.

Dua tulisan saya tentang Darktable di blog pribadi:

RawTherapee

Seperti namanya, perangkat lunak ini mengkhususkan diri sebaai pengolah foto mentah (RAW). Pun begitu, tetap bisa digunakan untuk gambar versi kompresi seperti format JPG atau format PNG.

sudo apt install rawtherapee

Perangkat lunak ini sekarang merupakan yang favorit, selain karena tool-nya lebih legkap dibanding Darktable, juga karena tidak terlalu berat ketika berjalan di mesin 32bit yang saya gunakan sekarang. Hanya saja, proses ekspor dari format RAW menjadi format JPG begitu terasa lambat. Apalagi jika kita memroses ratusan bahkan hingga ribuan foto jumlahnya.

Antar muka RawTherapee
Antar muka RawTherapee

Kdenlive

Perangkat lunak ini aslinya merupakan video editor. Hanya saja, di kondisi tertentu saya gunakan untuk membuat timelapse dari kumpulan ratusan foto. Tak ada fitur lain yang saya gunakan selain fitur tersebut.

sudo apt install kdenlive

Contoh hasil render timelapse menjadi video dapat dilihat pada tautan berikut: https://www.instagram.com/p/BFnXz5ym99J/?taken-by=bentara.id.

Antar muka Kdenlive
Antar muka Kdenlive

Phatch (Photo Batch Processor)

Seperti namanya, perangkat lunak ini dapat mengolah banyak foto, mulai dari ratusan bahkan ribuan hanya dengan sekali proses. Ada banyak tool yang tersedia di dalamnya, mulai dari resize, crop, memberi watermark, ekspor, dan lain sebaganya.

sudo apt instal phatch

Perangkat lunak ini saya gunakan sebagai finishing setelah foto-foto format RAW sebelumnya diolah di Darktable atau RawTherapee.

ANtar muka Phatch
ANtar muka Phatch

Selain karena prosesnya cepat, kita juga dapat mengkombinakasikan beberapa tool sekaligus dalam sekali proses. Semisal, saya punya ratusan foto hasil dari acara kopdar Komunitas Blogger Jogja misalnya. Akan sangat membuang sumber daya ketika saya mengunggahnya ke Dropbox dalam format JPG asli. Bayangkan, satu berkasnya saja berukuran rata-rata 8MB, coba dikalikan 100 foto misalnya. Alhasil, saya manfaatkan Phatch untuk mengatur ulang ukuran menjadi lebih kecil, kualitas gambar yang sedikit turun menjadi 90%, dan tak lupa memberi watermark pada setiap foto. Hasilnya? Dari foto yang rata-rata berukuran 8MB tadi, menjadi lebih kecil dengan ukuran 500KB – 1MB. Hemat bandwith bukan? 😀

Selain karena memudahkan untuk proses unggah, juga memberikan kenyamanan bagi kolega untuk mengunduh.

***

Nah, itulah daftar perangkat lunak yang saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini, kebutuhan akan pengolahan foto sesuai dengan keinginan saya cukup terpenuhi.

Jadi, apa perangkat lunak favorit kalian selain Photoshop dan Lightroom? 😉

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *