Bukit Sidengkeng
Bukit Sidengkeng

Petak 9 dan Bukit Sidengkeng, Camping Ground Baru di Dieng

Saya sempat kebingungan mencari camping ground di Dieng. Pasalnya, tempat yang ingin saya tuju, Telaga Dringo namanya, agak susah dikunjungi ketika gelap menyelimuti dunia. Hal ini dikarenakan akses ke sana masih begitu sulit dilalui kendaraan bermotor, belum lagi kita perlu trekking kurang lebih 15 menit untuk sampai ke pinggir telaga. Bayangkan hal tersebut dilakukan pada saat malam hari tiba ketika hujan turun dengan derasnya.

Beruntunglah, salah seorang teman saya, warga lokal Dieng, memberikan informasi yang sangat berguna. Lebih baik memasang tenda di Petak 9 katanya. Selain karena pemandangannya bagus, akses ke sana juga tidak susah, begitulah pesan yang saya terima.

Namanya memang agak asing, beberapa kali ke Dieng, saya baru pertama kali mendengarnya. Walau beberapa saat kemudian, saya baru sadar kalau seringkali melewati gerbangnya. Ya, posisinya tak jauh dari pos retibusi memasuki Telaga Warna, Dieng.

Bagi yang masih bingung menuju lokasi, berikut gambaran singkat untuk ke sana.

Dari pertigaan Dieng, arahkan kendaraan menuju Telaga Warna. Apabila kita menuju sana sebelum jam 17.00, biasanya dikenakan biaya retribusi beberapa tempat wisata (tidak termasuk Sikunir). Dari loket retribusi ini, sekitar 500 meter di depan, sebelah kiri jalan, kita bakal menemui gerbang bambu, di situlah pintu masuk menuju camping ground Petak 9.

Apabila kebingungan menentukan loket retribusi –karena tutup misalnya–, perhatikan sebelah kanan jalan. Patokannya adalah sebuah bangunan berupa pendopo besar sebelum yang peris di tikungan jalan, nah, gerbang Petak 9 persis berada di seberangnya.

Perlu diperhatikan bahwa, seringkali ketika senja tiba, loket Petak 9 hampir dipastikan tidak ada yang jaga, bahkan untuk malam minggu sekalipun yang notabene Dieng ramai dikunjungi wisatawan. Menurut warga lokal, kebanyakan petugasnya masih muda, kadangkala malam minggu lebih mementingkan acara pribadi dibanding jaga tempat wisata. Ah elah! 😀

Saran saya, apabila menggunakan kendaraan roda dua, bisa memarkirkan kendarannya di belakang toilet tak jauh dari gerbang masuk. Demi keamanan, usahakan agar tidak kelihatan langsung dari pinggir jalan raya. Alternatif kedua (seperti yang saya lakukan), memarkir kendaraan di basecamp pendakian Gn. Prau (persis di pertigaan Dieng), kemudian naik ojek ke Petak 9. Usahakan minta nomor handphone tukang ojeknya agar memudahkan untuk dijemput kembali keesokan harinya. Kalau ingin yang lebih menantang sedikit, bisa juga berjalan kaki dari basecamp Dieng menuju Pteka 9. Tak jauh kok, cuma sekitar 2 kilometer. 😉

Oh ya, walau tidak ada yang jaga, tetap usahakan untuk mengabari penanggug jawab lokasi ya. Nomornya tertera di banner yang terpasang tak jauh dari loket berada.

Lantas, pemandangan seperti apa yang ditawarkan dari Petak 9 ini?

Jadi, di lokasi ini terdapat dua tempat wisata utama. Pertama adalah camping ground Petak 9, dan yang lainnya adalah Bukit Sidengkeng. Memang, dari gerbang masuk, kita bakal mendapati jalan yang berbeda untuk menuju Petak 9 dan Bukit Sidengkeng, tapi dari kedua lokasi ini, kita bakal mendapatkan pemandangan yang hampir serupa.

Gerbang masuk menuju Bukit Sidengkeng
Gerbang masuk menuju Bukit Sidengkeng

 

Petak 9 menawarkan tanah lapang dengan padang rumputnya yang menghijau, ditambah matahari terbit yang sayang untuk dilewatkan. Dari sini juga, kita bisa menyaksikan Telaga Warna dari ketinggian. Masih belum cukup dengan Telaga Warna, jauh di belakangnya terpampang dengan gagahnya Gunung Sindoro apabila cuaca sedang cerah-cerahnya.

Bagusnya lagi, di Bukit Sidengkeng terdapat gardu pandang layaknya Kalibiru. Selain untuk menikmati pemandangan, gardu ini bisa dijadikan spot menarik untuk foto kekinian. Dari gerbang Bukit Sidengkeng, perlu waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke Bukit. Selama perjalanan, kita bakal menemui satu gardu pandang. Total, ada dua gardu pandang yang akan kita temui di bukit ini. Menarik lagi, di puncak bukit, sudah disediakan tangga segitiga untuk memudahkan fotografer mengambil posisi sejajar dengan objek foto di gardu pandang.

Walau posisi gardu pandangnya tidak terlalu tinggi, tetap perlu hati-hati ya, mengingat tidak ada alat pengaman tambahan dan petugas yang jaga.

Karena spot ini masih baru dan belum banyak tau, masih jarang ada yang berkunjung ke sini. Hal ini memberikan keuntungan bagi kita untuk mengeskplor sepuasnya untuk kegiatan dokumentasi, alias foto-foto.

Dibandingkan dengan camping ground lainnya, Telaga Cebong dan Sikunir, tempat ini jauh lebih menarik. Selain karena kondisi Telaga Cebong yang kering (karena disedot untuk penyiraman kebun), yang mengakibatkan kurangnya daya tarik telaga ini, kita juga harus mendaki Sikunir untuk menyaksikan metahari terbit dengan indahnya. Kebayang kan betapa ramainya Sikunir saat akhir pekan dan liburan?

Petak 9 dan Bukit Sidengkeng seperti perpaduan camping ground telaga Cebong, Sikunir dan Bukit Ratapan Angin. Karena dari lokasi ini, kita bisa menikmati tiga keindahan sekaligus, ialah golden sunrise & Sindoro, Telaga Warna serta camping ground yang bikin malas pulang. 😀

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *