Sate Klatak
Sate Klatak

Warung Nglathak; Sate Klatak Enak dan Kekinian di Tengah Kota Jogja

Selain Gudeg yang merupakan makanan khas dari Jogja, ada varian lain yang tak kalah dicari oleh wisatawan. Sate Klatak (Klathak) namanya.

A: “Mas, kalo di Jogja selain Gudeg makanan khasnya apa ya?”

B: “Oh, cobain Sate Klatak mbak!”

A: “Apah? Sate Katak? Ogah, jijik gua dengernya, apalagi makannya.”

B: “Hehe, Sate Klatak Mbak, bukan Katak. Sate Klatak itu serupa dengan sate kambing pada umumnya, hanya saja penyajiannya sedikit berbeda, dan dijamin rasanya luar biasa.”

A: “Oh siap, menarik kayaknya, yuk kita coba!”

Saya ingin bercerita sedikit tentang Sate Klatak bagi yang kurang familiar dengan jenis makanan tersebut.

Sate Klatak sendiri merupakan sate kambing. Berbeda dengan sate kambing umumnya yang menggunakan kecap sebagai penyedap rasa, Sate Klatak hanya menggunakan garam ketika pembakaran sebagai bumbu utama. Selain itu, ciri khas lainnya adalah, jika kamu biasa menemukan bilah lidi sebagai penusuk satenya, Sate Klatak menggunakan ruji sepeda sebagai bahan penusuknya. Penggunaan ruji sepeda ini membuat sate menjadi matang sampai ke bagian dalam, karena ketika dibakar, rujinya yang berbahan besi menghantarkan panas sampai ke bagian dalam potongan daging kambing.

Proses pembakaran sate
Proses pembakaran sate (foto: aqied.site)

Ketika dihidangkan, sate kambing biasa disandingkan dengan kecap atau pilihan lainnya berupa bumbu kacang, bawan merah, dan lombok tentunya. Nah, Sate Klatak tidak begitu, di beberapa penjual Sate Klatak yang saya temui, semuanya menyajikan kuah dengan cita rasa masing-masing sebagai pelengkap rasa.

Sayangnya, tidak mudah menemukan Sate Klatak di Yogyakarta, apalagi di pusat kotanya. Tidak mudah mencarinya, bukan berarti tidak ada sama sekali ya. Ada beberapa, tapi tak banyak yang memberikan kesan untuk kembali lagi untuk makan di sana.

Sate Klatak lebih banyak ditemui di sepanjang Jalan Imogiri, buka sedari siang sampai dengan malam hari. Jika rute perjalanan wisata kamu hanya seputar Kota Jogja, menggapai jajaran kuliner sate tersebut butuh waktu dua jam lamanya. Cukup membuang waktu untuk jika digunakan untuk sekadar mencicipi sebuah jenis makanan (kecuali kalau kamu ngidam atau penggila rasa).


Sebagai bloger makan gratisan yang mulai merambah dunia kuliner, sayang rasanya mengabaikan undangan dari Komunitas Blogger Jogja (KBJ) untuk makan di Warung Nglathak. Ya, 15 Desember kemarin, saya berkesempatan untuk mencicipi langsung aneka resep Sate Klatak di Warung tersebut. Warung Nglathak sendiri beralamat di Jl. Gambir Karangasem Baru Gg. Seruni No. 7 Catur Tunggal Depok Sleman, DIY.

Hari itu, sudah ada beberapa rekan bloger yang lebih dulu tiba di lokasi. Masing-masing sibuk dengan kamera digitalnya untuk mengabadikan makanan yang telah dipesan sebelumnya dalam berbagai posisi. Sebut saja Ardian, Aqied, Wawan (Jogja Minded), Aji, Vika, Mbak Indah, dan admin group KBJ tentunya, Atanasia Rian. Tak ketinggalan juga Makan Keliling dengan proses pembuatan vlognya. Sedikit banyak, kehebohan mereka membuat bingung pengunjung lain.

Warung Nglathak
Warung Nglathak (foto: aqied.site)

Hal pertama yang sama perhatikan adalah suasana tempatnya. Warung yang saya kunjungi kali ini mengusung konsep Bohemian (Boho Chic), tidak terlalu luas, namun dipenuhi pernak pernik di berbagai sudutnya. Sebut saja beberapa buku yang diletakkan pada sebuah goody bag retro. Goody bag-nya sendiri tergantung di setiap sisi meja untuk pengunjung. Beberapa poster minimalis tergantung berjajar di bagian plafonnya.

Suasana tempat makan di Nglathak
Suasana tempat makan di Nglathak (foto: aqied.site)

Mas To, begitu biasanya disapa. Bernama lengkap Muhammad Subroto, pemilik Warung Nglathak, penyuka kambing sekaligus pehobi airsoft gun. Di sela kesibukan menyiapkan hidangan untuk beberapa bloger, saya sempat bertanya beberapa hal kepada beliau seputar Sate Klatak dan warungnya. Seperti kenapa dinamakan Nglathak? Makanan apa yang difavoritkan sebagian besar pembeli? Dan lain sebagainya.

Nglathak (v) : Makan Sate Klatak ala Jogja; nyate kambing ala Jogja.

Nglathak (kata kerja), diambil dari bahasa slang yang berasal dari kata Klatak (kata benda). Umumnya kita menambahkan imbuhan “ng(e)” untuk kegiatan yang berasal dari kata benda bukan? Misal, makan Gudeg, menjadi Ngegudeg, atau contoh lainnya berupa makan mie menjadi Ngemie. Mas To tak mau ambil pusing, maka digunakan saja kata Nglathak sebagai nama warungnya. Lagian, menjadi keren ketika ada yang bertanya, “Makan apa kita nih?” Jawabnya sederhana, “Nglatahk aja yuk!”. 😀

Oh ya, Nglathak sendiri buka dari pukul 12.00 sampai dengan 20.00. Untuk sementara hari minggu dan libur nasional tidak buka.


Dari suasana makan, beralih ke topik makanannya.

Tak hanya Sate Klatak yang ditawarkan, tapi juga beberapa varian lainnya yang berbahan dasar daging kambing. Beberapa di antaranya adalah Tengkleng Kambing, Gulai Kambing, dan Tongseng. Yang cukup menarik adalah ada tiga jenis Sate Klatak yang ditawakan, Sate Klatak Original, Sate Klatak Manis, dan Sate Klatak Mozarella. Tidak pernah saya temukan Sate Klatak Mozarella di tempat lain, maka saya putuskan untuk mencobanya.

Sate Klatak Mozarella
Sate Klatak Mozarella (foto: aqied.site)

Tak hanya makanan, minumannya pun cukup unik. Seperti Teh (bunga) Telang misalnya. Saat penyajian, teh ini berwarna biru, berubah warna menjadi ungu ketika dicampurkan dengan jeruk nipis.

Teh Biru
Teh Biru (foto: aqied.site)

Saya sempat bertanya, bagaimana mendapatkan resep inovatif seperti ini?

Ternyata, Mas To ini adalah lulusan Sarjana Peternakan. Dari lingkungannya yang tak jauh dari peternakan (dan perkebunan mungkin?) memberikan manfaat tersendiri bagi beliau untuk saling bertukar informasi seputar hewan dan tumbuhan.

Dari ilmu tersebut juga lah, beliau mampu membuat daging yang dianggap keras oleh sebagian orang, menjadi sangat empuk ketika berbentuk sate. Ya, saya tidak bohong, tekstur dagingnya benar-benar empuk ketika digigit. Jika di warung lainnya menggunakan kambing muda untuk memberikan rasa renyah di setiap gigitan, Mas To menggunakan kambing betina dewasa sebagai bahannya. Tak hanya mampu membuat dagingnya jadi lebih empuk, Mas To juga berhasil membuat rasa garamnya merata di setiap lapisan daging. Tidak hambar, dan tidak terlalu asin juga.

Seperti yang saya bilang di atas, Sate Klatak disajikan dengan secawan kuah gulai (seperti gambar di bawah). Kuahnya gurih, baik ketika diicip terpisah maupun dicampur dengan nasi dan sate.

Sate Klatak lebih nikmat dimakan selagi dalam kondisi hangat. Saran saya, cobalah untuk mencicipinya terlebih duhulu tanpa kuah tambahan. Kemudian, dilanjutkan dengan memakannya dicampur dengan kuah gulai spesial. Seberapa besar perbedaannya? 😀

Gulai, Tongseng, dan Tengkleng
Gulai, Tongseng, dan Tengkleng (foto: aqied.site)

Harganya seporsinya tentu terjangkau, khususnya untuk kalangan mahasiswa, mulai dari Rp.18.000 untuk Sate Klatak dengan jumlah dua tusuk.

Inovasi beberapa makanan dan minuman memantabkan posisi Nglatak sebagai makanan kekinian yang mudah dijangkau di tengah kota. Menyasar target mahasiswa (berada di lingkungan kampus) dan wisatawan yang tak ingin jauh-jauh mencarinya ke Imogiri.

Pesan terakhir saya, jangan lupa untuk periksa darah tinggi dan kolesterol setiap habis makan Sate Klatak. ?

Tulisan lainnya:

 

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

6 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *