Kawah Putih
Kawah Putih

Secuil Kenangan di Kawah Putih, Bandung

Bahasan traveling memang tak pernah ada habisnya untuk diperbincangkan. Jika kamu traveler sejati, tentunya Kawah Putih sudah tak asing lagi bukan? Konon, tempat wisata ini jadi salah satu tujuan wajib bagi traveler yang ingin menghabiskan waktunya di Kota Bandung.

Beberapa minggu yang lalu, untuk kali keduanya saya mengunjungi Kawah Putih. Kawah Putih sendiri terletak di Kecamatan Ciwidey, Bandung. Dari pusat Kota Bandung, butuh durasi sekitar 2 jam lamanya dengan panjang sekitar 25 kilometer menuju kawasan wisata Ciwidey.

Ini merupakan kali kedua saya berkunjung ke Kawah Putih semenjak beberapa tahun lalu. Jika kunjungan pertama bersama dua wanita tangguh yang siap diajak ke mana saja, untuk kali kedua lebih spesial, karena jalan-jalan bersama suami dan rekan kerja.

Seringkali saya melakukan hal konyol dan tak masuk akal hanya untuk sebuah perjalanan. Bagaimana tidak, libur satu hari saya beranikan diri menginjakkan kaki ke Bandung. Padahal durasi perjalanan dari Yogyakarta sendiri cukup memakan banyak waktu. Memang cukup? Ya, jika dibilang kurang, pastilah kurang. Tapi, dengan perencanaan yang matang, satu hari sudah lebih dari cukup bagi saya. Lamaan-kelamaan, saya mulai nyaman dan terbiasa sendiri merencanakan sebuah perjalanan dengan waktu sempit. Seringkali, saya butuh tenaga ekstra untuk merencanakan perjalanan dari jauh hari yang hanya menghabiskan satu hari tersebut. Tentunya, harus sepaket dan sepakat dengan suami.

***

Kawah Putih sendiri merupakan salah satu obyek wisata favorit yang berada di kawasan Ciwidey, Bandung. Kawah ini merupakan danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha.

Sedikit susah jika harus menggunakan angkutan umum menuju Kawah Putih, itulah kenapa akan lebih baik jika menggunakan kendaraan pribadi, baik itu roda dua maupun roda empat. Saya sendiri lebih memilih kendaraan roda empat. Dalam kondisi musim hujan, menggunakan mobil lebih aman pikir saya. Lagian, traveling secara berkelompok lebih seru jika dalam perjalanan berada dalalam satu kendaraan.

Persiapkan liburan anda ke Kawah Putih di Ciwidey Bandung dengan tips wisata terbaik kami, agar tidak menyesal saat berkunjung.

Baca selengkapnya di http://s.id/d6Q.

Jikapun bersikeras untuk menggunakan kendaraan umum, kamu bisa naik angkot dengan rute Terminal Leuwi Panjang menuju Terminal Ciwidey. Dari Terminal Ciwidey, perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan angkot menuju Situ Patenggang dan turun di depan gerbang utama Kawah Putih.

Ada yang bisa bantu menerjemahkannya?
Ada yang bisa bantu menerjemahkan tulisan di gerbang tersebut?

Dengan kondisi jalanan yang naik turun dan berkelok, seringkali membuat diri merasa khawatir. Wajar saja, beberapa ruas jalan terdapat jurang di sisi kanan maupun kiri kendaraan kita. Buktinya, kondisi jalan tersebut sukses membuat salah satu rekan saya mabuk di mobil (atau memang pada dasarnya dia sering mabuk dalam kendaraan?). Untungnya, tak melulu rasa khawatir yang kita rasakan, sesekali, kita bakal terkagum sama pemandangannya yang menyejukkan, seperti hamparan luas kebun teh misalnya.

***

Kedatangan kami di pintu gerbang Kawah Putih diserbu beberapa pedagang asongan dari warga sekitar. Mulai dari pedagang buah stroberi, blueberry, sampai dengan camilan olahan khas Bandung. Tak hanya pedagang, sambutan dingin juga datang dari kabut yang sedari pagi sudah menyelimuti kawasan Ciwidey.

Cilor
Cilor atau Cilok Telor, salah satu jajanan yang harus kamu coba

Umumnya, seperti tempat wisata lainnya, di kawasan pintu masuk terdapat banyak toko dengan jualannya. Kebanyakan yang dijual berupa sandang dan pangan, seperti kaos suvenir dan makanan penghangat seperti bakso & mie ayam.

Hal menariknya adalah terdapat banyak angkutan umum yang biasa disebut Ontang-anting (Bahasa Sunda: mondar-mandir). Ontang-anting sendiri merupakan angkot yang dimodifikasi sedemikian rupa khusus untuk mengangkut wisatawan dari pintu gerbang utama menuju kawah. Biasanya harganya sudah satu paket dengan biasa masuk ke kawah.

Sistem angkutannya sendiri menarik. Pemilik Ontang-anting menggunakan kartu elektronik untuk setiap kali masuk atau kembali membawa wisatawan. Kartu elektronik tersebut didapat setiap kali kursi dalam angkutan penuh dan diberikan oleh pengelola tempat wisata. Jadi, sebagai wisatawan, kita tidak perlu membayar langsung untuk menggunakan Ontang-anting. Selain itu, kita bisa menggunakan Ontang-anting yang berbeda pada saat kembali menuju gerbang utama dari kawah.

Jejeran Ontang-anting
Jejeran Ontang-anting

Apabila kamu termasuk traveler dalam golongan yang suka berhemat, dimungkinkan juga untuk berjalan kaki menuju kawah. Jika menggunakan Ontang-anting butuh waktu sekitar 10 menit (ngebut), maka dengan berjalan kaki bisa menghabiskan waktu selama kurang lebih 30 menit (bisa lebih, tergantung kondisi badan). Cukup melelahkan ya. 😀

Menggunakan kendaraan pribadi pun diperbolehkan untuk menuju kawah, dengan biaya tambahan tentunya.

Tak banyak yang berubah dari Kawah Putih dibanding saat pertama kali saya berkunjung ke sana. Hanya ada sedikit kenaikan untuk biaya masuk ke kawasan kawah tersebut.

Daftar harga tiket masuk Kawah Putih
Daftar harga tiket masuk Kawah Putih

Mendekati kawah, kita akan menemui areal yang cukup luas untuk parkiran Ontang-anting dan kendaraan pribadi. Di beberapa lokasi juga terdapat bangunan berbahan kayu yang difungsikan sebagai kantor pengelola. Tak ketinggalan pula, sebuah plang besar bertuliskan “Kawah Putih” yang jadi spot utama untuk swafoto wisatawan.

Swafoto
Swafoto dulu!

Dari lokasi parkiran, kita diharuskan lagi berjalan selama 15 menit dengan jarak kurang lebih sejuah 500 meter. Menurun menyusuri jalan kecil yang telah dirapikan oleh pengelola. Masih dengan suasananya yang serupa dengan lokasi pintu gerbang utama, di sini juga kita bakal mendapati berbagai jenis pedagang. Mulai dari pedangan masker, suvenir, sampai dengan bebatuan yang katanya berkhasiat untuk kesehatan. Tak ketinggalan pula jasa fotografi langsung jadi, atau transfer ke peranti pribadi. 😀

Mendekati kawah, bau belerang begitu menyengat menusuk hidung. Di lokasi tertentu, terdapat beberapa larangan untuk menjauhi air kawah demi keamanan. Ada banyak pohon yang tumbuh di sekitar kawah, sedikit seram kelihatannya, tapi jadi spot bagus untuk latar foto.

***

Kawah Putih mampu menghipnosis banyak orang yang mengunjunginya, termasuk saya. Bau belerang yang menyengat dan hijaunya kawah itu selalu memberikan suasana mistis nan romantis bagi saya. Sejuknya udara di sana membuat saya betah untuk tinggal dan sesekali mengabadikan pemandangan melalui kamera ponsel. Indah memang, tapi bau belerang yang menyengat juga membuat saya tak betah berlama-lama di sana. Konon, bau belerangnya memang tidak baik bagi kesehatan tubuh kita. Itulah kenapa, selalu direkomendasikan menggunakan masker setiap kali berkunjung ke sana.

Saung Kecapi
Saung Kecapi

Rasanya saya tak ingin beranjak dari Kawah Putih, namun mengingat waktu saya tak banyak. Sengaja kutinggalkan kenangan di sana, yang kelak akan membuat saya kembali (lagi) ke sana. Entah kapan masanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *