Seluruh Pendaki Gunung Gamalama Ditemukan Selamat

TERNATE – Upaya pencarian para pendaki yang terjebak dalam kepungan kabut dan debu vulkanik erupsi Gunung Gamalama, membuahkan hasil. Dua pendaki yang berhasil di evakuasi yakni Rian (18) dan Ir (17).

Kedua remaja tersebut ditemukan pada ketinggian sekira 1000 mdpl. Kondisi keduanya lemas karena kelelahan berlarian turun gunung. Mereka langsung dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Sembilan pendaki (sebelumnya disebut 10 orang) dilaporkan hilang. Tim pencari yang terdiri dari anggota Mapala, PMI dan warga sekitar kaki gunung, berhasil mengevakuasi empat pendaki di antaranya Mahatir Indra alias Ando (16), Jainudin Bayau alias Jai (14), Anggi Juandi Tandjung (17) dan Nicky. Keempatnya kini menjalani perawatan di RSU Chasan Boesoeri Ternate, akibat mengalami luka dan cedera di tubuhnya.

Saat terjadinya letusan, para pendaki tengah berada di salah satu pos di puncak Gunung Gamalama pada ketinggian sekira 1.500 mdpl. “Luka-luka dan patah tulang yang kami alami akibat hempasan batu dan kerikil dari kawah gunung meletus,” tutur Angli, salah satu korban saat diwawancarai di rumah sakit, Jumat (19/12/2014).

Hingga saat ini, masih ada satu pendaki lagi bernama Agung, yang masih terjebak di ketinggian sekira 1000 mdpl. Remaja warga Koloncucu itu diduga mengalami luka-luka sehingga tidak mampu turun gunung.

Dua pendaki berhasil turun dengan selamat pascameletusnya gunung yakni Khairul dan Asril, kedua warga kelurahan Salero. Sembilan pendaki yang semuanya berusia belasan tahun ini melakukan pendakian pada Kamis tanpa ada pemberitahuan kepada pihak yang berwajib. Mereka tiba di salah satu puncak Gunung Gamalama pada ketinggian 1.500 mdpl yang berjarak hanya beberapa ratus meter saja dari kawah gunung.

Saat ini, pihak berwajib telah mengeluarkan larangan untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Gamalama. Bahkan, ditetapkan radius tiga kilometer sebagai kawasan yang berbahaya. Gunung Gamalama sendiri saat ini dinaikkan statusnya menjadi siaga (level III).

Sumber: Okezone

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *