Sepatu Basah Karena Kehujanan? Berikut 4 Tips Mengeringkannya dengan Cepat

Hujan memang memberikan tantangan tersendiri ketika mendaki. Selain karena sering dibuat ragu, karena dikhawatirkan terjadi apa-apa ketika dalam pendakian, ada banyak barang ekstra juga yang harus dibawa dalam tas. Itu artinya butuh tenaga lebih untuk mengangkut semuanya ke puncak.

Sialnya, jika hujan turun tiba-tiba saat lagi asik atau kepayahan dalam pendakian. Kalang kabutlah kita dibuatnya. Kepanikan terjadi sambil mencari tempat berteduh, mengamankan barang elektronik sampai ada yang bongkar ulang barang untuk mencari-cari jas hujan yang entah diselipkan di mana.

Jika badan bisa ditutupi dengan jas hujan, sedangkan tas bisa ditutupi dengan rain cover, sayangnya masih banyak yang lupa untuk menutupi sepatu agar agar tidak kebasahan. Loh, bukannya sepatu anti air (waterproof) sudah banyak? Betul, bagian permukaannya memang anti air, tapi tidak menutup kemungkinan juga kemasukan air dari atas. Masih banyak pendaki yang menggunakan jas hujan model lepasan (tanpa celana), sehingga hanya melindungi bagian kepala sampai dengan lutut, sehingga memungkinkan air untuk masuk ke dalam sepatu.

Praktis, tapi tidak melindungi sepenuhnya
Praktis, tapi tidak melindungi sepenuhnya

Ada hal konyol lainnya, pemilik lupa memasukkan sepatunya ke dalam tenda dan tetiba hujan deras turun untuk beberapa saat. Maka, basahlah sepatunya.

Kalau kalian pernah mengalami hal serupa, mungkin empat tips ini bisa membantu sebagai tindakan korektif apabila tindakan preventif terlewat.

Jemur Segera

Sesampai di camping ground atau tempat peristirahatan sejenis, jemur segera sepatu apabila cuaca memungkinkan, jika hari belum malam tentunya.

Jangan meninggalkan sepatu tanpa pengawasan, selain karena ditakutkan hujan akan turun kembali dan mengenai sepatu, di gunung ada banyak orang lalu lalang yang menyebabkan keamanan barang-barang kita tidak terjamin.

Gunakan Gel Silika (Silica Gel)

Gel Silika
Gel Silika

Jika beli sepatu baru, bakal kita temui dalam kardusnya sebuh bungkusan kecil berisi bulatan-bulatan keras transparan. Namanya adalah gel silika. Gel ini membantu menjaga kelembapan yang berlebih.

Silika gel mencegah terbentuknya kelembapan yang berlebih. Karena itu silika gel umum digunakan dalam setiap pengiriman barang-barang yang disimpan dalam kotak. Silika gel merupakan produk yang aman digunakan untuk menjaga kelembapan obat-obatan, bahan sensitif, elektronik, bahkan makanan sekalipun.
— Wikipedia

Nah, silica gel juga dapat dimanfaatkan untuk mengeringkan sepatu yang basah karena sifatnya yang menyerap air. Tuangkan gel silika secukupnya ke dalam sepatu, dan tunggu beberapa jam untuk proses penyerapan. Niscaya, sepatu akan kering dengan cepat.

Gunakan Kertas Koran

Tak banyak orang yang tau gel silika, apalagi sampai membawanya ke gunung. Alternatifnya, kita bisa menggunakan kertas koran bekas dengan memasukkannya ke dalam sepatu. Pastikan sepatu bagian dalam diperas terlebih dahulu sampai tak ada yang menggenang.

Memang, waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan sepatu dengan kertas koran sedikit lebih lama, berkisar antara 4-6 jam. Itupun belum kering sempurna. Pengalaman saya, malam hari sekitar pukul 23.00 dikeringkan, pagi harinya sekitar pukul 06.00, sepatu masih sedikit lembap. Namun, setidaknya lebih baik daripada basah sama sekali.

Oh ya, selain mempercepat pengeringan, kertas koran juga membantu menghilangkan bau pada sepatu.

Gunakan Tisu

Kalau tidak terpikirkan untuk membawa koran, masih ada alternatif lain, yaitu dengan kertas tisu. Jenis kertas yang satu ini hampir selalu dibawa oleh pendaki karena kepraktisan dan multiguna. Baik untuk pembersih alat makan, maupun membantu bebersih ketika selesai buang air.

Menggunakan kertas tisu membuat sepatu lebih cepat kering karena sifatnya yang mudah menyerap. Hanya saja, ada banyak lembaran tisu yang harus dimasukkan ke dalam sepatu dan harus diganti setiap beberapa jam.

***

Kalian punya pengalaman serupa dan solusi untuk kasus tersebut? Jangan sungkan untuk berbagi bersama melalui komentar. 😉

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *