Tebing Keraton
Tebing Keraton

Sisi Lain Bandung dari Tebing Keraton

Dari sebagian kalian, mungkin ada yang pernah mendengar celetukan seperti “Fotonya aja yang bagus, padahal aslinya biasa”. Memang ada benarnya juga, terlebih kalau yang berkata adalah seorang traveler dengan segudang pengalaman tempat wisata unik.

Tebing Keraton mungkin salah satunya. Bisa dikata seperti bukit pada umumnya. Tapi, dari statemen di atas dapat saya simpulkan dua sisi positf. Pertama, teknik dan seni dalam fotografi yang bukan asal-asalan. Kedua, mulai antusiasnya masyarakat di Indonesia dengan dunia traveling.

Lantas, sudah siapkah kita untuk menjaga dan melestarikan keindahan alam tersebut?

Pertanyaan ini muncul begitu saja, sebagai cerminan diri sendiri. Hal kecil apa yang bisa saya lakukan agar tempat seperti ini tetap lestari, masih dapat dinikmati generasi penurus kita sendiri.

***

Tebing Keraton adalah tempat wisata yang saya kunjungi ketika pertama kali tiba di Bandung beberapa waktu lalu. Begitu populernya tempat ini, menjadi tempat rekomendasi yang wajib disambangi oleh beberapa orang yang pernah saya tanya. Ke mana aja kalo ke Bandung? Begitu tanya sederhananya, dan Tebing Keraton salah satu jawabannya.

Sedikit berbeda dengan Puncak Bintang yang menawarkan gemerlanya lampu perkotaan, dari tebing ini kita bisa menyaksikan pegunungan dan hutan yang menyejukkan. Taman Hutan Ir. H. Juanda lebih tepatnya.

Tampilan Tebing Keraton tidak berbeda jauh dengan Puncak Becici dan Kebun Buah Mangunan yang ada di Jogjakarta.  Disediakannya pagar pembatas untuk melindungi pengunjung dari hal buruk yang tidak diinginkan, jatuh dari ketinggian salah satunya. Beberapa fasilitas standar tempat wisata juga tersedia, seperti tempat duduk dan beberapa pohon sebagai tempat berteduh. Tidak usah khawatir kehausan dan kelaparan, ingat saja, di mana ada tempat wisata, selalu terdapat warung di sana.

***

Sedikit cerita tentang Tebing Keraton, mula-mula nama Tebing Keraton muncul pada Mei 2014 tepatnya pukul 24.00. Pada saat itu pula saya langsung menulis nama Tebing Keraton lalu keesokan harinya saya simpan di depan rumah dilengkapi dengan petunjuk arah, dan setelah nama tersebut dipasang setiap harinya pengunjung mulai berdatangan terkadang ada 2 motor, 3 motor, 5 motor dan seterusnya. Maka sayapun punya inisiatip untuk membersihkan halaman rumahku lalu diperlebar sedikit demi sedikit semain lama semakin banyak pengunjung yang datang lalu saya punya ide untuk membuat kotak uang dengan dalih untuk kebersihan dan perawatan jalan yang sampai saat ini kotak tersebut masih tersimpan dengan rapi sebagai saksi dan bukti yang nyata.

Maka dengan hati yang tulus sayapun membuat jalan setapak ke tempat tujuan berikut lahan parkir tanpa seorangpun yang membantu, akhirnya Tebing Keraton terkenal ke mana-mana.

Namun, di sisi lain banyak orang bertanya-tanya, kenapa sih namanya Tebing Keraton? Tebing (Sunda) Gawir, Keraton adalah sebuah kemewahan alam, kemegahan alam dan keindahan alam yang bisa kita nikmati bersama.

Maka saya tidak menulis Keraton yang identik dengan gedung yang layaknya instana tetapi Keraton Sunda banget.

Dan sejak dulu memang sudah ada, cuman namanya bukan Tebing Keraton melainkan Cadas Jontor yang artinya Cadas tersebut menonjol ke depan dan mempunyai ketinggian yang berbeda di antara cadas-cadas lainnya, itulah sedikit tentang riwayat Tebing Keraton, semoga pengunjung puas.

Marilah kita nikmati, marilah kita jaga bersama kebesaran yang telah Allah berikan kepada kita semua, semoga Anda tidak bosan untuk datang dan mentaati semua aturan.

***

Begitulah kiranya beberapa paragraf yang tertulis pada sebuah papan pada Tebing Keraton. Menceritakan sejarah mengenai Tebing Keraton serta beberapa aturan yang sebaiknya diterapkan oleh wisatawan. Adapun aturan yang tertulis pada papan tersebut:

  1. Buanglah sampah pada tempatnya.
  2. Jaga diri masing-masing/hati-hati.
  3. Jangan gaduh, jangan berdesak-desakkan. Jangan melewati pagar, ikuti aturan pemandu.
  4. Batas waktu jam 05.00 s/d 18.00.
  5. Jangan kencing sembarangan.

Sebagai saran, untuk mengecek kembali kondisi kendaraan ketika menuju Tebing Keraton, karena akses jalan menuju atas begitu tidak nyaman karena masih dalam pembangunan jalan. Khusus untuk mobil, lokasi parkir masih sangat jauh dari posisi tebing itu sendii. Butuh waktu jalan berkilo-kilo jauhnya dengan posisi yang menanjak. Atau, kalau tidak mau repot, bisa menggunakan jasa ojek dengan kisaran harga kurang lebih Rp.50.000.

Untuk masuk Tebing Keraton sendiri dikenakan biaya Rp.11.000 per orang sudah termasuk asuransi, namun belum termasuk parkir. Biaya parkir sepeda motor sebesar Rp.5.000 dan sebesar Rp.10.000 untuk sebuah mobil.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *