Puncak Becici
Puncak Becici

Sunset di Puncak Becici

Traveler, jika sedang berada di kawasan Imogiri, Yogyakarta, tidak salahnya untuk mengunjungi tempat wisata baru, Puncak Becici namanya. Atau, Puncak Becici juga bisa dijadikan sebagai tujuan terakhir apabila suatu saat kita menghabiskan waktu untuk menjelajahi Imogiri seperti Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Imogiri dan Makam Raja Imogiri. Kenapa? Karena Puncak Becici menawarkan sunset dengan keindahan yang memanjakan mata wisatawan.

Puncak Becici terletak di Dusun Gunung Cilik, Desa Gunung Mutuk, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta dan wilayahnya masuk dalam RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan, wilayah kerja Dishutbun Provinsi Yogyakarta.

Tidak susah menuju Puncak Becici jika kita sudah paham betul lokasi Hutan Pinus Imogiri. Dari hutan pinus sendiri sudah ada penunjuk arah ke Puncak Becici, hampir di setiap tikungan juga tersedia penunjuk ke arah tersebut. Jadi, hampir dipastikan kita tidak bakal nyasar ke tujuan akhir. Bahkan, jika kita beruntung, beberapa penduduk lokal dengan kearifannya akan berteriak, misal: “Puncak Becici arah kiri Mas!” apabila melihat kita sedikit kebingunan di persimpangan. Hal-hal yang jarang sekali dapati dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila berangkat dari Kota Yogyakarta, arahkan saja kendaraan menuju Jalan Imogiri Timur. Luruskan arah jalan menuju selatan, di beberapa tikungan yang sedikit membuat kebingunan disediakan penunjuk jalan. Ambil jalan yang mengarah ke Kebun Buah Mangunan. Perlu diingat bahwa ada pertigaan yang memisahkan jalan Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus, pilih jalan menuju Hutan Pinus.

Sesampainya di area Puncak Becici, kita bakal disuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata, hutan pinus yang mendamaikan jiwa dengan kesejukan yang menyeruak menembus kulit kita.

Menariknya, disepanjang jalan hutan pinus menuju puncak, terdapat kursi-kursi dan ayunan yang bisa digunakan untuk sekadar beristirahat atau dijadikan spot yang menarik buat foto. Dari areal ini, kita masih perlu berjalan sekitar 10-15 menit untuk sampai di titik yang disebut sebagai puncak.

Terdapat 4 gardu pandang yang dapat digunakan pengunjung secara gratis. Pengelolaan dan penyediaan fasilitas ini sendiri masih dilakukan oleh swadaya oleh masyarakat sekitar dan juga belum ada pemungutan biaya (kecuali parkir terntunya). Sayangnya, penggunaan fasilitas gratis ini juga memiliki kekurangan, masih ada pengunjung yang sedikit “egois” untuk tetap bertahap di gardu pandang tanpa peduli di bawahnya ada pengunjung lain yang setia menunggu giliran naik.

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *