Gerhana Matahari
Gerhana Matahari

Walau Bukan Gerhana Matahari Total, di Yogyakarta, Fenomenanya Tak Kalah Indah

Tanggal 9 Maret lalu, Indonesia kebagian jatah lintasan gerhana Matahari. Konon fenomena tersebut bakal terjadi setiap 18 tahun sekali dengan lintasan yang belum tentu sama. Walau begitu, tidak semua wilayah di negeri tersebut mendapatkan jatah gerhana Matahari total. Seperti di Yogyakarta misalnya, berdasarkan kategori gerhana Matahari yang ada di Wikipedia, bakal mendapati gerhana Matahari sebagian.

Gerhana sebagian, terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan.
— Wikipedia

Untuk memperingati momen langka tersebut, beberapa wilayah di Yogyakarta dijadikan sebagai tempat untuk menyaksikan gerhana tersebut beramai-ramai. Tidak hanya menyaksikan, dianjurkan juga bagi yang yang muslim untuk melaksanakan sholat gerhana. Sebut saja UIN dan Tugu Jogja sebagai tempat terdekat dari kota.

Tugu Jogja saya jadikan tempat untuk hunting foto. Selain karena mengikuti keramaian, saya juga mengadakan beberapa janji untuk berkumpul dengan kolega di sana.

Keramaian di Tugu Jogja
Keramaian di Tugu Jogja

Berdasarkan informasi dari beberapa website, seperti Jogja.co misalnya, gerhana Matahari dimulai dari jam 06:20 dan mencapai puncak gerhana Matahari sebagian pada jam 07:23. Sedangkan fenomenanya sendiri berakhir pada 08:35.

Foto gerhana pertama kali saya ambil adalah jam 07:22, yang mana posisi Bulan sudah menutupi sebagian besar cincin Matahari. Sedangkan foto terakhir saya ambil pada jam 07:59. Pada saat tersebut, posisi Bulan masih menutupi sepertiga Matahari.

Gerhana dari waktu ke waktu
Gerhana dari waktu ke waktu

Gerhana Matahari tidak boleh disaksikan langsung dengan mata telanjang. Selain tidak jelas secara visual juga karena terlalu terang. Efek lainnya bisa mengakibatkan kerusakan pada mata. Oleh karenanya, ada alat khusus yang dapat digunakan untuk memandang ke arah Matahari. Jenisnya bisa bermacam-macam, mulai dari kacamata sederhana yang dilengkapi dengan kaca pelindung, ada juga yang berbentuk teleskop yang dipastikan tidak semua orang bisa memilikinya. Karena harganya yang relatif murah, alat yang berbentuk kacamata pasti lebih diminati. Bahkan beberapa waktu lalu sempat ada yang membagikannya secara masal dengan gratis.

Hal yang serupa juga terjadi apabila kita ingin mengabadikan momen tersebut dengan kamera, tentu juga dibutuhkan peralatan khusus agar gambar yang dihasilkan bisa dilihat dengan nyaman dan apa adanya.

Normalnya, untuk foto gerhana, butuh lensa dengan focal length 400-1000mm. Selain itu, juga dibutuhkan solar filter yang berfungsi untuk melindungi sensor serta menggelapkan cahaya yang masuk ke sensor kamera. Alternatif solar filter, bisa menggunakan filter ND1000 atau minimal sekali ND400.

Nah, sayangnya focal length terpanjang yang saya punya adalah 250mm dan filter ND (Neutral Density) yang terpasang di lensa sesuai dengan batas minimal yang dianjurkan, Haida ND400. Hasilnya? Gerhana mataharinya tetap kelihatan walau saya tidak mendapatkan foto close-up yang maksimal.

Gerhana Matahari
Cropped, 1/256, ISO 100, 250mm.

Oh ya, menariknya beberapa hari sebelum terjadinya gerhana, di beberapa grup Facebook yang membahas fotografi dibagikan DIY (Do It Yourself) project untuk membuat filter sendiri. Holder-nya, biasanya dibuat dari kabus atau kartun, sedangkan filter-nya sangat variatif, bisa diambil dari disket, kaca film, atau film negatif yang dilapis-lapis. Kalau bikin sendiri, tentunya harganya jauh lebih murah. Ada yang mengklaim cuma habis dua puluh ribuan per buahnya, jauh lebih murah dibanding filter khusus lensa yang harganya ratusan ribu.

Satu lagi anjuran ketika ingin mengambil foto menggunakan kamera; jangan menggunakan view-finder kamera, akan lebih baik menggugunakan live-preview. Karena, melihat langsung dari view-finder sama saja dengan melihat gerhana Matahari secara langsung.

Gerhana Matahari di Yogyakarta

Nah, niat awalnya, saya mau bikin timelapse dengan mode live-preview diaktifkan. Eh, ternyata malah mengundang beberapa gerombolan yang menyaksikan gerhana dari kamera. 😀

Yugo Dedy Purwanto

Bagi saya, keindahan itu sederhana. Kota asing di senja dengan langit birunya, serta lampu jalanan yang sudah mulai menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *